Collaboration . Empowerment . Contribution

Indahnya Banyuwangi, The Sunrise of Java, di Mata Saya

Selama ini saya banyak mendengar ‘hiruk pikuk’ Banyuwangi dari berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Hiruk pikuk apa? Apalagi kalau bukan soal geliat pariwisata dan pelestarian budaya kabupaten terbesar di Pulau Jawa tersebut. Dengan mengusung tagline ‘the sunrise of Java’, Banyuwangi berhasil menyita perhatian banyak orang sebagai destinasi wisata alternatif dan tentu menarik untuk dikunjungi, selain destinasi wisata yang memang sudah lebih lama dikenal di Indonesia.

 

Bagi saya, yang lahir dan besar di Jawa Timur, persepsi saya waktu kecil dulu adalah Banyuwangi sebagai pusat santet. Kenapa? Mungkin karena dulu pernah ada kasus sekitar akhir tahun 1990an dimana santer beredar isu dukun santen di daerah Tapal Kuda Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi dan sekitarnya. Jangankan pergi berwisata ke sana, melintas saja sudah membuat orang takut. Ya, namanya juga anak kecil. Tapi hal itu juga banyak melekat di benak masyarakat saat itu sepertinya, dari segala usia.

 

Jujur sebelumnya saya tidak pernah berwisata ke Banyuwangi. Paling banter hanya melewati daerah tersebut dalam rute Jawa Timur – Bali atau sebaliknya. Alhamdulillah, setelah sekian puluh tahun, akhirnya saya bisa jalan-jalan ke daerah tersebut. Berikut ini adalah beberapa cerita menarik yang bisa saya kabarkan kepada teman-teman traveller semuanya.

 

 

‘Salah satu poster Pokdarwis di Grand Watudodol’

 

Grand Watudodol; Laut Cantik di Selat Bali

Watudodol adalah nama daerah yang berbatasan langsung dengan Banyuwangi. Salah satu ikon dari daerah ini adalah Patung Penari Gandrung berukuran raksasa yang terletak di tepi pantai. Grand Watudodol sendiri adalah nama pantai yang awalnya bernama Pantai Watudodol. Pantai berpasir hitam ini memang masih asri. Di sekitarnya dengan mudah dijumpai pohon nyiur berukuran tinggi dan besar. Pantai yang menghadap ke arah timur ini merupakan tempat yang pas untuk menikmati matahari terbit. Tidak hanya itu, di sini wisatawan juga bisa mencoba berbagai wahana permainan/ olahraga air mulai dari banana boat, perahu dan lainnya. Beberapa penyewaannya dikelola oleh kelompok sadar wisata atau Pokdarwis setempat.

 

Tujuan saya ke Watudodol ini sebenarnya adalah untuk menuju dua pulau yang terletak di tidak jauh dari dermaga yakni Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan. Pulau Menjangan sendiri terletak di kasawan Taman Nasional Bali Barat tepatnya di Kabupaten Buleleng.

 

Pulau Tabuhan adalah pulau kecil tidak berpenghuni dengan luas sekitar 5-6 hektar. Pulau ini menjadi tujuan wisatawan untuk keperluan one day visit dimana wisatawan dapat menikmati pantai pasir putih, bermain air atau snorkeling di sekitarnya. Walau tidak berpenghuni, terdapat beberapa warung yang menjual makanan ringan dan berbagai minuman. Pedagang ini berasal dari Banyuwangi daratan dan pulang pergi setiap harinya. Menurut salah satu pedagang, pulau ini setiap hari selalu ada kunjungan wisatawan namun akan paling ramai ketika weekend atau musim liburan. Saya sendiri mencoba mengelilingi pulau ini dan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai kembali ke titik awal keberangkatan saya. Di bagian tengahnya, pulau ini ditutupi oleh aneka tumbuhan dan semak belukar. Konon dulu pernah diselenggarakan lomba kite surfing internasional di pulau ini. Beberapa wisatawan dan atlet kite surfing juga masih kerap melakukan latihan di sini. Pulau ini rencananya akan ditata ulang dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang wisata yang lebih baik.

 

Dalam perjalanan kembali ke Grand Watudodol, saya cukup beruntung karena bisa melihat lumba-lumba. Kata pemandu wisata, memang di daerah tersebut sering melintas kawanan lumba-lumba. Namun jumlahnya sekarang makin terbatas karena pencemaran air laut dan biota laut di dalamnya.

 

Banyuwangi bisa menjadi contoh yang baik tentang bagaimana transformasi masyarakat dari yang semula mengeksploitasi alam menjadi pelestari alam dan beralih ke sektor pariwisata. Konon di sekitaran Bangsri dan Watudodol ini, para nelayan mencari ikan dengan melakukan pemboman. Lama kelamaan hasil tangkapan menurun dan laut dan biotanya semakin rusak. Sadar akan kesalahan ini, dan dipelopori oleh salah satu sesepuh nelayan, akhirnya aktivitas pengeboman dihentikan. Inisiatif yang dilakukan untuk tetap bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat adalah melalui pembentukan pokdarwis, pembukaan sewa peralatan olahraga air, jasa pemandu wisata dan rumah apung Bangsring. Rumah apung ini adalah semacam penangkaran ikan di tepi pantai dimana pengunjung membayar uang masuk untuk bisa melihat bagaimana budidaya ikan di sana. Salah satu yang paling populer adalah pengembangbiakan hiu.

 

‘Bersama anak-anak SD peserta Festival Angklung Caruk’

 

Kota dengan Beratus Festival Seni, Budaya, Alam, dan Olahraga

Hampir di banyak sisi Banyuwangi, terdapat poster ukuran raksasa yang berisi informasi jadwal atau kalender festival yang digelar sepanjang 2017. Banyuwangi beberapa bulan lalu memang dinobatkan sebagai kota festival terbaik di Indonesia. Berbagai festival yang saya tahu antara lain Festival Gandrung Sewu, Festival Mepe Kasur, Banyuwangi Ethno Carnival, Jazz Ijen, Banyuwangi Beach Jazz, Tour de Ijen, Festival Kebo-Keboan, Festival Tumpeng Sewu, Festival Seblang dan lain sebagainya. Banyuwangi memang memiliki keunikan karena budaya Osingnya yang khas. Konon Osing adalah salah satu bagian dari masyarakat Majapahit yang melarikan diri saat Majapahit diserang Kerajaan Demak. Suku Osing memiliki budaya yang unik dan memiliki bahasa sendiri yakni Bahasa Osing. Kekayaan budaya ini pula yang coba digali oleh masyarakat dan pemerintah Banyuwangi untuk mendukung geliat pariwisata di sana.

 

Saya senang karena saat itu bisa melihat satu festival yakni Festival Angklung Caruk. Angklung caruk adalah alat musik khas bali yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya adalah dengan menggoyang-goyangkan angklung yang ditata di semacam wadah yang terbuat dari kayu. Festival angklung caruk 2017 sendiri adalah festival yang pertama kali digelar setelah puluhan tahun mati suri. Bertempat di Taman Blambangan sepanjang akhir pekan waktu itu, festival ini menyita banyak sekali perhatian masyarakat yang datang langsung untuk menyaksikan.

Festival ini mempertandingkan perwakilan SD dari masing-masing kecamatan di Banyuwangi. Tim SD akan bertarung dengan satu tim SD lainnya. Tim dibagi menjadi 3 yakni pemain gamelan dan angklung caruk, penari pria serta sinden/ penyanyi wanita. Mereka akan memainkan lagu-lagu tanpa suara vokal, kemudian di tengah musik, tim yang memainkan akan berhenti. Tim satunya akan mencoba untuk menebak apa lagu yang dimainkan tersebut dan melanjutkan memainkan musiknya. Tiap tim akan mendapatkan kesempatan memainkan lagu secara bergantian. Tim yang bisa menebak akan mendapatkan poin. Kompetisi ini sangat hidup dan interaktif. Para penonton kadang merasa gemas karena tim peserta tidak bisa menjawab. Lagu-lagu yang dimainkan sendiri adalah lagu lokal dan lagu tradisional Banyuwangi. Dari beberapa kali pertandingan yang saya lihat, tidak satupun lagu bisa berhasil dijawab. Lantas saya bertanya kepada diri saya sendiri; ada berapa banyak sih lagu lokal di sini kok anak-anak tidak ada yang tahu ehehe. Well, jawabannya pasti banyak sekali karena memang seni musik di sini berkembang dengan sangat baik. Beberapa lagu yang sudah dikenal luas termasuk saya ketahui adalah Ulan Andong-Andong, Grejegan Banyuwangi dan Impen-Impenan.

 

‘Salah satu sudut Cafe Osing Deles’

Berkunjung ke Osing Deles

Jika kamu ke Banyuwangi, maka jangan khawatir akan oleh-oleh. Di sana ada banyak sekali penjual oleh-oleh khas setempat. Salah satunya yang paling terkenal adalah Osing Deles. Deles adalah Bahasa Osing yang artinya sekali. Jadi Osing Deles bisa diartikan sebagai Osing Banget atau Osing Sekali. Osing Deles ini mempunyai dua cabang dan yang saya kunjungi adalah yang di pusat kota. Terdiri dari dua bagian, bagian lantai dasar adalah pusat oleh-oleh dan lantai atas adalah kafe, Osing Deles menjual banyak sekali beragam oleh-oleh mulai makanan, minuman, gantungan kunci, patung, lukisan, ikat udang khas Osing, dan sebagainya. Bagi saya yang penyuka pernak-pernik, saya membeli beberapa termasuk miniatur penari gandrung dan beberapa jenis lainnya. Bagi kamu yang pecinta batik, di sini juga dijual berbagai batik lokal dengan berbagai desain atau motif yang khas, salah satunya tentunya adalah motif gajah oling. Puas berbelanja, saya mencoba ke kafe atas, di sini dijual berbagai makanan khas Osing, salah satunya adalah pecel pitik. Saya memesan menu makanan ini dan rasanya ternyata enak. Tidak seperti bumbu pecel lainnya yang terbuat dari kacang, pecel pitik ini berbumbu dari parutan kelapa dan aneka bumbu. Rasanya pedas manis dan sedap sekali. Kafe di sini desainnya juga unik menampilkan arsitektur dan hiasan khas Osing, pokoknya benar-benar Osing Deles di sini ehehe. Untuk informasi, outlet Osing Deles ini tidak melayani pembelian secara online loh. Alasannya adalah agar wisatawan datang langsung ke Banyuwangi dan menikmati keindahan Banyuwangi secara nyata bukan secara maya, unik kan?! Oh ya, di depan outlet kamu disuguni aneka minuman dan cemilan dengan cara self service. Ini katanya cara untuk menyambut dan menghormati tamu 🙂

 

Ijen Menyimpan Berbagai Cerita

Kawah Ijen sudah sangat terkenal namanya. Ya, kawah ijen adalah kawah di puncak Gunung Ijen, menjadikannya sebagai salah satu kawah tereksotis di Indonesia. Kawah ini menjadi tempat penambangan sulfur atau belerang dan menjadi lebih unik karena adanya blue fire. Konon api biru alami ini hanya ada dua di dunia yakni di Kawah Ijen dan Eslandia. Untuk mendaki kawah Ijen tidaklah gampang. Api biru hanya terlihat dari jam 3-5 pagi dengan demikian, wisatawan harus mulai mendaki dini hari jam 12 malam atau 1 pagi dini hari. Pendakian ini memerlukan waktu sekitar 2 jam an dengan tingkat kesulitan sedang. Jalur pendakian telah dibuat dan diratakan namun di beberapa sisi memang tingkat kemiringan pendakian bisa sekitar 50 derajat. Dengan demikian perlu adanya kekuatan fisik untuk bisa mencapai puncak Ijen. Tidak hanya itu, untuk bisa melihat api biru, maka kita perlu menuruni kawah. Jalurnya jauh lebih menantang karena berupa jalan berbatu terjal. Tidak mulus seperti pendakian ke puncak gunung. Jalur ke kawah ini sangat berbahaya dan perlu berhati-hati karena tidak ada pegangan menurun sama sekali.

 

Saat saya ke sana, suasana memang ramai. Wajar karena memang cuaca tidak hujan. Saya dan beberapa wisatawan lain dipandu oleh seorang pemandu. Pemandu ini dulunya adalah para penambang belerang di Ijen. Dia secara cakap menjelaskan tentang seluk beluk Ijen. Gunung Ijen memang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang baik mereka yang menambang belerang maupun mereka yang bekerja di sektor pariwisata entah sebagai pemandu, taksi gunung, penjual souvenir, penjual peralatan wisata seperti masker, ataupun penjual aneka makanan dan minuman. Berbicara tentang penambang Ijen, merupakan cerita unik dan kadangkala menurut saya menyedihkan. Para penambang ini sudah menambang sejak dini hari, mencari belerang yang sudah beku dan memikulnya dengan alat sederhana yang diletakkan di pundak. Sekali pikul bisa 50-60 kilogram belerang dibawa. Sehari bisa mengumpulkan sampai 150-200 kilogram belerang tergantung dari kemampuan penambang. Belerang tersebut dibawa dari dasar kawah ke atas puncak gunung, kemudian dari puncak gunung dibawa ke kaki gunung. Bisa dibayangkan sehari setidaknya mereka harus bolak balik 2-3 kali. Saya sendiri yang sekali PP dan tidak membawa beban apapun sudah merasa letih sekali, bagaimana dengan mereka dengan ratusan kilogram belerang di pundak. Tiap kilogram belerang diharga 1.000 rupiah dan dijual ke pengepul yang berasal dari perusahaan pengolah belerang yang ada di sekitar kawasan Ijen.

 

‘Kawah ijen yang indah dan menjadi berkah bagi banyak orang’

 

Ketahanan fisik bukan hanya syarat utama, namun ada resiko lain yang lebih mematikan yang dihadapi oleh para penambang ini. Pertama adalah asap belerang yang mungkin beracun. Ya, asap belerang yang keluar dari kawah Ijen mungkin saja beracun dan mematikan ketika dihirup saat itu juga. Yang saya lihat, para penambang kadang tidak menggunakan masker sebagaimana seharusnya. Sangat berbahaya sekali jika asap beracun ini muncul. Beberapa kali kawasan Kawah Ijen ini ditutup untuk penambang dan wisatawan karena adanya asap beracun ini. Kedua adalah resiko jatuh ketika melewati jalur kawah maupun puncak gunung. Jalur kawah yang sangat curam dan tidak ada pengaman yang layak bisa saja membuat penambang ini jatuh. Ketika jatuh maka potensi terbentur batu keras ataupun masuk langsung ke kawah yang mematikan bisa terjadi. Bagi saya, ini adalah nasihat dan pelajaran berharga tentang bagaimana anak manusia bertahan hidup. Menurut cerita mereka ‘terpaksa’ menambang karena memang tidak ada pilihan pekerjaan lain. Beberapa dari mereka akhirnya menjadi pemandu wisata atau supir taksi gunung. Apa itu supir taksi gunung? Ya jasa layanan angkut PP dari kaki gunung ke puncak Ijen dan lainnya dengan menggunakan kereta sorong yang selama ini digunakan untuk mengangkut belerang. Sekali PP harganya bisa mencapai 600 ribu rupiah untuk maksimal 2 orang. Taksi gunung ini dikendalikan oleh 2 orang supir dengan cari didorong dan ditarik. Kembali ke penambang, penting bagi kita semua untuk mensyukuri apa yang kita punya, profesi yang kita miliki saat ini dan bentuk lain dari karuhia Sang Pencipta. Tiap orang memiliki cobaan masing-masing dan jika kamu merasa apa yang kamu alami berat, cobalah datang ke Kawah Ijen dan melihat kehidupan para penambang belerang di sana, yang dari kacamata pribadi saya, sangat lah berat. Ya, sangat berat sekali malah.

 

Kamu juga bisa membantu perekonomian warga setempat dengan membeli oleh-oleh berupa belerang ijen. Belerang dengan bentuk asli serta bentuk yang sudah diukir/ dimodifikasi dapat kamu beli dari para penambang dengan harga yang relatif terjangkau.

 

‘Pantai Bama yang masih asri’

 

Liarnya Taman Nasional Baluran

Di Banyuwangi terdapat 2 taman nasional yakni Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo. Kabupaten yang luasnya hampir sama dengan Provinsi Bali ini memang mengandalkan objek wisata alam yang beranekaragam.

Saya sempat mengunjungi Baluran yang sebenarnya mayoritas wilayahnya ada di Kabupaten Situbondo. Baluran terkenal sebagai Afrika van Java karena adanya padang sabana yang luas. Untuk memasuki wilayah taman nasional ini, seperti akses ke taman nasional lainnya, dibutuhkan ijin. Tour lead kami mengurus perizinan di taman nasional dan membayar tiket masuk. Sebelum memasuki sabana, maka mobil kami melewati jalan setapak dengan kanan kiri adalah hutan yang masih asri. Setelah sampai di sabana, memang terlihat luas sekali dengan pemandangan Gunung Baluran di salah satu sisinya. Di sabana terlihat beberapa kawanan kerbau liar serta rusa. Di sini, hewan yang khas adalah kerbau liar, banteng, rusa, burung merak dan lainnya. Suasana Afrika akan lebih terasa jika musim kemarau tiba. Tepat di ujung taman nasional ini ada pantai bernama Pantai Bama. Saya sempat berkunjung ke sana pula. Pantainya masih bersih dan berpasir putih. Di sana banyak sekali monyet ekor abu-abu sehingga pengunjung harus hati-hati. Di sana juga terdapat hamparan hutan bakau yang masih asri.

 

‘Salah satu sudut Baluran dengan latar belakang Gunung Baluran’

 

Yang Perlu Kamu Ketahui dan Perhatikan

Mengunjungi Banyuwangi memang sangat menyenangkan. Ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan. Nah yang perlu kamu tahu bahwa ketersediaan transportasi umum di sana terbatas. Saya sendiri juga kesulitan ketika mencari ojek yang saya anggap sebagai transportasi tercepat dimanapun saya berada. Namun, warga setempat sangat tahu tentang wisatawan dan bisa mendeteksi mana wisatawan luar kota. Mereka tidak sungkan untuk menawarkan bantuan. Di sepanjang Banyuwangi juga tidak sulit menemukan tempat makan begitu juga penginapan. Di sepanjang Ketapang dapat ditemui aneka hotel mulai dari kelas melati hingga bintang 3. Selain itu tentu saja, kamu harus menjadi wisatawan yang bertanggungjawab dengan tidak melakukan vandalisme terhadap alam, sosial dan budaya dalam bentuk apapun. Menjaga dan menghormati kelestarian objek wisata yang kita kunjungi sama artinya dengan memastikan bahwa orang lain dan generasi berikutnya akan dapat menikmati apa yang bisa kita nikmati saat ini.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *