Warning: curl_init() has been disabled for security reasons in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 95

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 97

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 98

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 100

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 103

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 106

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 333

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 334

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 363

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 370

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 375

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 376

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 377

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 379

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 382

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 150

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 151

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 159

Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 162

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 181

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/joharjo1/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 182
April 2017 – Johar Zauhariy’s Diary

Collaboration . Empowerment . Contribution

Month: April 2017

When Lil Sis’s Coming to Jakarta

When Lil Sis’s Coming to Jakarta

Salah satu waktu yang menyenangkan terjadi ketika kita berkumpul dengan keluarga. Sebagai orang rantau yang sudah merantau belasan tahun, tentu menjadi sesuatu yang jarang terjadi saya bisa bersama dengan keluarga besar yang mayoritas tinggal di Jawa Timur. Beberapa waktu lalu, salah satu sepupu saya datang […]

Jalan-Jalan Bali dengan Mbak Tanti

Jalan-Jalan Bali dengan Mbak Tanti

Pada Februari 2017 yang lalu, secara random kakak saya mengajak jalan-jalan ke Bali. Namun bukan jalan-jalan privat namun bersama dengan rombongan dia perusahaan dia bekerja. Nah, perjalanan kami adalah overland dengan menggunakan bus dari Jawa Timur menuju Bali. Perjalanan overland seperti ini bukanlah kali pertama […]

Indonesian Singer with Voice of Heaven; Monita Tahalea

Indonesian Singer with Voice of Heaven; Monita Tahalea

One of few Indonesian singers that I like most is Monita Tahalea. Monita was first publicly known as finalist of Indonesian Idol back years ago. Monita has really unique voice and she uses to bring awesome songs as well. Some songs I like most are I’ll be fine, Memulai Kembali, Hope and Di Batas Mimpi. Monita will be performing at Jazz Kampung Djawi, the biggest jazz event in Jombang, my hometown. Takes place in beautiful Kampung Djawi resort, she will be there along with other jazz artists. Bad that I can not make it there. Well as fan, just sure that someday I can here her in live performance ehehe 🙂

 

Di Batas Mimpi Lyric 

Malam sunyi tak jua mengerti
Kala rinduku tak kunjung menepi
Menanti matahari fajar berganti

Di malam ini ku sendiri
Tanpa dirimu kasih
Namun di dalam mimpi-mimpi
Kau kan mengisi hari-hariku
Ku kan slalu setia menanti

Terdengar ku berdo’a
Demi cintaku

Bila ku dengar suara hati
Tiada satu yang pasti
Walau di batas mimpi-mimpi
Kau kan kembali
Dalam hatiku sampai batas waktu menanti

.

 

.

Hope Lyric

Detik-detik waktu berlalu pergi,
Lukiskan semua kisah,
Hembus angin bisikkan kata indah,
Hapuskan semua resah,
Ku berjalan menyusuri pelangi,
Sampai surya bersinar lagi,
Ku ucapkan terimakasih Tuhan,
Atas s’gala karunia cinta,
Bintang jatuh dekap semua harap,
Hingga datangnya hari,
Nanti…

.

Memulai Kembali Lyric

Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi kembali
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
whoo ooh
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
whoo ooh
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi
Dan ku kan memulai kembali
.
I’ll be Fine Lyric
Today another day has gone
and I’m still here all alone stuck with the pieces of yesterday
yesterday wasn’t enough
Sometimes life can be so tough 
with all your love one hurting you
what about faith doesn’t it conquer
and you find the strength within you to go on
singing na na na na na 
singing na na na na na 
don’t you worry I’ll be fine, someday
What is life without hard day
everytime for build and teaches us a new thing everyday
now this is faith it does conquer 
and it gives you strength and hope to carry on
singing na na na na na
singing na na na na na 
don’t you worry I’ll be fine, someday

It’s Good to be Back!

It’s Good to be Back!

Banyak yang kaget kenapa saya akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja di Accenture. Saya sendiri tentu telah berpikir panjang kenapa saya akhirnya re-apply untuk bekerja di perusahaan konsultan yang memiliki kantor di 50 negara dan beroperasi di 120 negara di seluruh dunia ini. Karir pertama saya […]

Thank You Pak Ahok for Making Jakarta Way Much Better!

Thank You Pak Ahok for Making Jakarta Way Much Better!

Jakarta baru saja menyelenggarakan hajatan besar yakni pemilihan umum daerah untuk memiliki gubernur yang menjabat periode 2017-2022. Pilgub ini berlangsung seru, sengit, penuh drama dan memberikan kesan bagi banyak orang. Tiga calon pasangan dari partai dan/ atau koalisi partai yang berbeda ikut serta dalam kontestasi […]

Slice Tennis Story: Selamat Jalan Joni!

Slice Tennis Story: Selamat Jalan Joni!

Minggu sore itu, awal April 2017, seperti biasa kami, anggota klub tenis MHI, berlatih. Cuaca terlihat cerah dan lapangan sangat memungkinkankami untuk bermain. Well, jujur memang cuaca yang cerah cenderung panas membuat saya lebih semangat latihan atau bermain. Sebaliknya cuaca mendung membuat orang-orang galau jika saja di tengah-tengah permainan justru gerimis atau hujan lebat. Jam 3 sore, para anggota sudah ramai dan berdatangan satu persatu. Mereka yang sudah datang pun akhirnya memanfaatkan waktu untuk bermain atau berlatih. Di klub ini, keanggotaan memang dibagi menjadi dua: pertama adalah beginner dan kedua adalah advanced. Pada jam 03.00-04.00 maka setiap peserta akan mendapatkan jadwal latihan atau bermain secara paralel karena ada 3 lapangan yang tersedia pada jam itu.

 

Sayang cuaca berubah mendung dan hujan ringan menjelang pukul 4. Anak-anak pun kemudian berteduh dan menunggu dalam ketidakpastian. Namun saat jam 5 lebih sedikit, kemudian saya berinisiatif untuk mengajak anak-anak bermain. Saya termasuk salah satu anggota yang freak dan sering memaksakan diri bermain saat hujan rintik atau saat hujan sudah berhenti, walaupun lapangan masih basah. Well dalam pikiran saya, saya ke lapangan kan untuk bermain dan bukan untuk menunggu hujan ehehe. Nah, saat itu hanya Joni yang merespon ajakan saya. Saya ingat betul ketika saya bilang:

 

“guys yuk mukul lucu-lucuan!” begitu ajak saya.

 

Akhirnya saya pukul tenis one-on-one dengan Joni, saat kondisi masih rintik-rintik. Saat itu, saya tidak memakai sepatu tenis saya jadi saya harus berhati-hati ketika mengejar bola. Saya juga tidak memaksakan diri untuk lari dan mengejar bola karena memang kondisi lapangan yang licin saat itu. Agar teman sparring saya juga tidak melakukan yang sama, maka saya selalu berupaya untuk mengarahkan bola ke arah posisi dimana dia berada.

 

‘Acara syukuran MHI beberapa bulan lalu’

 

Namun saat itu Joni sepertinya sedang semangat-semangatnya, bola tenis dipukulnya kencang-kencang ke seluruh penjuru lapangan saya. Sering sekali dia memukul winner yang artinya bolanya tidak bisa saya jangkau dan kembalikan, seringkali pula teman-teman yang melihat dan duduk di bangku menyorakinya. Sepertinya dia terlihat lebih semangat dengan sorakan tersebut.

 

Nah setelah memukul sekitar 20 menitan, kondisi lapangan saat itu kemudian terang benderang. Hujan berhenti total dan kemudian beberapa orang akhirnya meminta penjaga lapangan untuk mengepel. Ketika engkong, seorang penjaga lapangan yang paling tua, mengepel, kemudian ada salah seorang yang nyeletuk:

 

“Jo, apaan sih lo orang ada ngepel masih maen aja lo!”

 

Ya wajar karena memang bisa saja bola yang saya pukul mengenai engkong tersebut. Akhirnya, saya berhenti bermain dan duduk di pinggir lapangan. Yang saya tahu si Joni tetap bermain entah service atau memukul lainnya. Saya tidak terlalu memperhatikan. Sampai yang saya lihat dari pinggir lapangan, kemudian ada satu orang lagi yang akhirnya bermain sparring. Sampai pada satu titik dimana saya melihat Joni terjatuh dan dari sinilah awal mulanya.

 

Do’a Kami Menyertai

Joni terlihat terjatuh ke depan dan saat itu kami sempat terdiam beberapa detik sebelum menuju posisi dia yang jatuh. Setelah badannya kami balikkan, dia sudah tidak sadarkan diri namun terdengar suara dari mulutnya. Saat itu kami kaget, kalut dan takut menjadi satu. Berdasarkan perkataan penjaga lapangan, bisa dipastikan Joni terkena serangan jantung. Tidak pernah kami mengalami atau melihat kejadian tersebut secara langsung di waktu-waktu yang lalu. Biasanya kecelakaan hanya terjadi seperti terkilir, keseleo, atau otot tertarik. Yang paling parah sebelumnya adalah yang saya alami ketika mata saya terkena bola yang cukup keras ketika saya berada di depan net.

 

Saat itu, tidak ada satupun yang bisa memberikan pertolongan pertama. Akhirnya kami membawa Joni ke rumah sakit MMC. Di sana joni langsung ditangani di ruang gawat darurat. Saya tidak terlalu tahu bagaimana dia ditangani namun saya sempat melihat sebentar sebelum akhirnya saya meninggalkan ruangan untuk sholat magrib. Di saat yang bersamaan, beberapa dari kami mencari kontak keluarga atau teman Joni yang bisa dihubungi. Memang database keanggotaan klub kami tidak mencakup kontak emergensi dan juga track record kesehatan. Sebelumnya kami tidak pernah tahu bagaimana riwayat kesehatan Joni, bagaimana pola hidupnya, pola makannya dan lainnya. Yang kami tahu, Joni termasuk anggota yang rajin, berangkat dan pulang di waktu yang sesuai. Dia juga termasuk yang aktif bermain tenis selama di lapangan. Dia juga dikenal sebagai anak yang gemar lari dan sering ikut beberapa event lari.

 

‘Semoga semua bisa sehat dan berolahraga terus’

 

Sekembalinya saya ke ruang gawat darurat, saya yang dari tadi ketar-ketir, akhirnya mendengar berita bahwa Joni tidak bisa tertolong dan akhirnya meninggal dunia; innalilahi wainnailahi rojiun. Tentu kami kaget dan bersedih. Bahkan ada dari kami yang menangis. Ya semuanya terjadi dengan cepat dan tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami akhirnya berhasil mengontak salah satu keluarganya dan akhirnya mereka datang ke rumah sakit tersebut. Mereka terlihat tegar walau masih ada pengharapan dengan meminta dokter untuk melakukan pengecekan kembali. Namun memang sudah saatnya bagi Joni untuk beristirahat. Akhirnya Joni dikirim ke rumah duka untuk kemudian diterbangkan ke kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara. Selamat jalan Joni, semoga bahagia dan damai di sana. Mohon maaf dari kami semua jika ada kesalahan.

 

Siap Berolahraga

Kejadian yang kami hadapi kala itu membuat kami menarik banyak sekali pelajaran berharga:

  1. Pertama adalah terkait dengan pentingnya memiliki informasi akan kontak emergensi entah itu teman dekat, keluarga atau apaun yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu. Hal ini pula yang akhirnya mendorong pendataan ulang keanggotaan di klub kami dengan memasukkan poin kontak emergensi dan track record kesehatan.
  2. Kedua adalah pentingnya melakukan pemanasan jelang olahraga. Pemanasan ini untuk mempersiapkan agar tubuh kita siap untuk olahraga lebih lanjut. Termasuk di dalamnya adalah pendinginan.
  3. Ketiga adalah pentingnya untuk paham diri sendiri dan batas dimana tubuh bisa mentolerir forsir secara fisik, mental dan psikologis. Seringkali publik mengharapkan kita untuk break the limit tapi hanya kita yang tahu dimana batas diri kita. Tidak ada gunanya juga memaksakan diri untuk berlari ketika kondisi fisik sedang capek. Maka janganlah olahraga jika memang tidak kuat, berhentilah olahraga jika sudah capek.

 

‘Semoga Joni bisa terus bermain tenis di sana :)’ Joni duduk jongkok bertopi biru

 

Tenis memang merupakan olahraga yang beresiko karena memang secara pergerakan membutuhkan jantung yang bisa menyesuaikan dengan pola permainan tenis yang cukup dinamis dan sporadis. Semoga kita semua bisa tetap sehat dan berolahraga yang kita sukai. Amin.

Serunya Kartini Fun Run 2017

Serunya Kartini Fun Run 2017

April dikenal sebagai bulannya Kartini karen adi sini diperingati Hari Kartini; sebuah selebrasi dan peringatan tentang pemberdayaan wanita dan kesetaraan wanita. Saya sebelumnya menulis beberapa artikel terkait dengan Kartini dan bagaimana beberapa cerita menarik terkait dengan perjuangan wanita dalam hidupnya mulai dari mereka yang mencoba […]

Toba yang Indahnya Tak Terkira

Toba yang Indahnya Tak Terkira

Alhamdulillah, saya berkesempatan jalan-jalan lagi. Kali ini adalah ke Sumatera Utara. Ini adalah kunjungan kedua saya ke provinsi ini setelah sebelumnya saya berkunjung ke Langkat, tepatnya ke daerah Tangkahan. Danau Toba adalah tujuan utama saya kali ini, bersama dengan 2 orang teman, kami melakukan road […]

Indahnya Banyuwangi, The Sunrise of Java, di Mata Saya

Indahnya Banyuwangi, The Sunrise of Java, di Mata Saya

Selama ini saya banyak mendengar ‘hiruk pikuk’ Banyuwangi dari berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Hiruk pikuk apa? Apalagi kalau bukan soal geliat pariwisata dan pelestarian budaya kabupaten terbesar di Pulau Jawa tersebut. Dengan mengusung tagline ‘the sunrise of Java’, Banyuwangi berhasil menyita perhatian banyak orang sebagai destinasi wisata alternatif dan tentu menarik untuk dikunjungi, selain destinasi wisata yang memang sudah lebih lama dikenal di Indonesia.

 

Bagi saya, yang lahir dan besar di Jawa Timur, persepsi saya waktu kecil dulu adalah Banyuwangi sebagai pusat santet. Kenapa? Mungkin karena dulu pernah ada kasus sekitar akhir tahun 1990an dimana santer beredar isu dukun santen di daerah Tapal Kuda Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi dan sekitarnya. Jangankan pergi berwisata ke sana, melintas saja sudah membuat orang takut. Ya, namanya juga anak kecil. Tapi hal itu juga banyak melekat di benak masyarakat saat itu sepertinya, dari segala usia.

 

Jujur sebelumnya saya tidak pernah berwisata ke Banyuwangi. Paling banter hanya melewati daerah tersebut dalam rute Jawa Timur – Bali atau sebaliknya. Alhamdulillah, setelah sekian puluh tahun, akhirnya saya bisa jalan-jalan ke daerah tersebut. Berikut ini adalah beberapa cerita menarik yang bisa saya kabarkan kepada teman-teman traveller semuanya.

 

 

‘Salah satu poster Pokdarwis di Grand Watudodol’

 

Grand Watudodol; Laut Cantik di Selat Bali

Watudodol adalah nama daerah yang berbatasan langsung dengan Banyuwangi. Salah satu ikon dari daerah ini adalah Patung Penari Gandrung berukuran raksasa yang terletak di tepi pantai. Grand Watudodol sendiri adalah nama pantai yang awalnya bernama Pantai Watudodol. Pantai berpasir hitam ini memang masih asri. Di sekitarnya dengan mudah dijumpai pohon nyiur berukuran tinggi dan besar. Pantai yang menghadap ke arah timur ini merupakan tempat yang pas untuk menikmati matahari terbit. Tidak hanya itu, di sini wisatawan juga bisa mencoba berbagai wahana permainan/ olahraga air mulai dari banana boat, perahu dan lainnya. Beberapa penyewaannya dikelola oleh kelompok sadar wisata atau Pokdarwis setempat.

 

Tujuan saya ke Watudodol ini sebenarnya adalah untuk menuju dua pulau yang terletak di tidak jauh dari dermaga yakni Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan. Pulau Menjangan sendiri terletak di kasawan Taman Nasional Bali Barat tepatnya di Kabupaten Buleleng.

 

Pulau Tabuhan adalah pulau kecil tidak berpenghuni dengan luas sekitar 5-6 hektar. Pulau ini menjadi tujuan wisatawan untuk keperluan one day visit dimana wisatawan dapat menikmati pantai pasir putih, bermain air atau snorkeling di sekitarnya. Walau tidak berpenghuni, terdapat beberapa warung yang menjual makanan ringan dan berbagai minuman. Pedagang ini berasal dari Banyuwangi daratan dan pulang pergi setiap harinya. Menurut salah satu pedagang, pulau ini setiap hari selalu ada kunjungan wisatawan namun akan paling ramai ketika weekend atau musim liburan. Saya sendiri mencoba mengelilingi pulau ini dan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai kembali ke titik awal keberangkatan saya. Di bagian tengahnya, pulau ini ditutupi oleh aneka tumbuhan dan semak belukar. Konon dulu pernah diselenggarakan lomba kite surfing internasional di pulau ini. Beberapa wisatawan dan atlet kite surfing juga masih kerap melakukan latihan di sini. Pulau ini rencananya akan ditata ulang dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang wisata yang lebih baik.

 

Dalam perjalanan kembali ke Grand Watudodol, saya cukup beruntung karena bisa melihat lumba-lumba. Kata pemandu wisata, memang di daerah tersebut sering melintas kawanan lumba-lumba. Namun jumlahnya sekarang makin terbatas karena pencemaran air laut dan biota laut di dalamnya.

 

Banyuwangi bisa menjadi contoh yang baik tentang bagaimana transformasi masyarakat dari yang semula mengeksploitasi alam menjadi pelestari alam dan beralih ke sektor pariwisata. Konon di sekitaran Bangsri dan Watudodol ini, para nelayan mencari ikan dengan melakukan pemboman. Lama kelamaan hasil tangkapan menurun dan laut dan biotanya semakin rusak. Sadar akan kesalahan ini, dan dipelopori oleh salah satu sesepuh nelayan, akhirnya aktivitas pengeboman dihentikan. Inisiatif yang dilakukan untuk tetap bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat adalah melalui pembentukan pokdarwis, pembukaan sewa peralatan olahraga air, jasa pemandu wisata dan rumah apung Bangsring. Rumah apung ini adalah semacam penangkaran ikan di tepi pantai dimana pengunjung membayar uang masuk untuk bisa melihat bagaimana budidaya ikan di sana. Salah satu yang paling populer adalah pengembangbiakan hiu.

 

‘Bersama anak-anak SD peserta Festival Angklung Caruk’

 

Kota dengan Beratus Festival Seni, Budaya, Alam, dan Olahraga

Hampir di banyak sisi Banyuwangi, terdapat poster ukuran raksasa yang berisi informasi jadwal atau kalender festival yang digelar sepanjang 2017. Banyuwangi beberapa bulan lalu memang dinobatkan sebagai kota festival terbaik di Indonesia. Berbagai festival yang saya tahu antara lain Festival Gandrung Sewu, Festival Mepe Kasur, Banyuwangi Ethno Carnival, Jazz Ijen, Banyuwangi Beach Jazz, Tour de Ijen, Festival Kebo-Keboan, Festival Tumpeng Sewu, Festival Seblang dan lain sebagainya. Banyuwangi memang memiliki keunikan karena budaya Osingnya yang khas. Konon Osing adalah salah satu bagian dari masyarakat Majapahit yang melarikan diri saat Majapahit diserang Kerajaan Demak. Suku Osing memiliki budaya yang unik dan memiliki bahasa sendiri yakni Bahasa Osing. Kekayaan budaya ini pula yang coba digali oleh masyarakat dan pemerintah Banyuwangi untuk mendukung geliat pariwisata di sana.

 

Saya senang karena saat itu bisa melihat satu festival yakni Festival Angklung Caruk. Angklung caruk adalah alat musik khas bali yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya adalah dengan menggoyang-goyangkan angklung yang ditata di semacam wadah yang terbuat dari kayu. Festival angklung caruk 2017 sendiri adalah festival yang pertama kali digelar setelah puluhan tahun mati suri. Bertempat di Taman Blambangan sepanjang akhir pekan waktu itu, festival ini menyita banyak sekali perhatian masyarakat yang datang langsung untuk menyaksikan.

Festival ini mempertandingkan perwakilan SD dari masing-masing kecamatan di Banyuwangi. Tim SD akan bertarung dengan satu tim SD lainnya. Tim dibagi menjadi 3 yakni pemain gamelan dan angklung caruk, penari pria serta sinden/ penyanyi wanita. Mereka akan memainkan lagu-lagu tanpa suara vokal, kemudian di tengah musik, tim yang memainkan akan berhenti. Tim satunya akan mencoba untuk menebak apa lagu yang dimainkan tersebut dan melanjutkan memainkan musiknya. Tiap tim akan mendapatkan kesempatan memainkan lagu secara bergantian. Tim yang bisa menebak akan mendapatkan poin. Kompetisi ini sangat hidup dan interaktif. Para penonton kadang merasa gemas karena tim peserta tidak bisa menjawab. Lagu-lagu yang dimainkan sendiri adalah lagu lokal dan lagu tradisional Banyuwangi. Dari beberapa kali pertandingan yang saya lihat, tidak satupun lagu bisa berhasil dijawab. Lantas saya bertanya kepada diri saya sendiri; ada berapa banyak sih lagu lokal di sini kok anak-anak tidak ada yang tahu ehehe. Well, jawabannya pasti banyak sekali karena memang seni musik di sini berkembang dengan sangat baik. Beberapa lagu yang sudah dikenal luas termasuk saya ketahui adalah Ulan Andong-Andong, Grejegan Banyuwangi dan Impen-Impenan.

 

‘Salah satu sudut Cafe Osing Deles’

Berkunjung ke Osing Deles

Jika kamu ke Banyuwangi, maka jangan khawatir akan oleh-oleh. Di sana ada banyak sekali penjual oleh-oleh khas setempat. Salah satunya yang paling terkenal adalah Osing Deles. Deles adalah Bahasa Osing yang artinya sekali. Jadi Osing Deles bisa diartikan sebagai Osing Banget atau Osing Sekali. Osing Deles ini mempunyai dua cabang dan yang saya kunjungi adalah yang di pusat kota. Terdiri dari dua bagian, bagian lantai dasar adalah pusat oleh-oleh dan lantai atas adalah kafe, Osing Deles menjual banyak sekali beragam oleh-oleh mulai makanan, minuman, gantungan kunci, patung, lukisan, ikat udang khas Osing, dan sebagainya. Bagi saya yang penyuka pernak-pernik, saya membeli beberapa termasuk miniatur penari gandrung dan beberapa jenis lainnya. Bagi kamu yang pecinta batik, di sini juga dijual berbagai batik lokal dengan berbagai desain atau motif yang khas, salah satunya tentunya adalah motif gajah oling. Puas berbelanja, saya mencoba ke kafe atas, di sini dijual berbagai makanan khas Osing, salah satunya adalah pecel pitik. Saya memesan menu makanan ini dan rasanya ternyata enak. Tidak seperti bumbu pecel lainnya yang terbuat dari kacang, pecel pitik ini berbumbu dari parutan kelapa dan aneka bumbu. Rasanya pedas manis dan sedap sekali. Kafe di sini desainnya juga unik menampilkan arsitektur dan hiasan khas Osing, pokoknya benar-benar Osing Deles di sini ehehe. Untuk informasi, outlet Osing Deles ini tidak melayani pembelian secara online loh. Alasannya adalah agar wisatawan datang langsung ke Banyuwangi dan menikmati keindahan Banyuwangi secara nyata bukan secara maya, unik kan?! Oh ya, di depan outlet kamu disuguni aneka minuman dan cemilan dengan cara self service. Ini katanya cara untuk menyambut dan menghormati tamu 🙂

 

Ijen Menyimpan Berbagai Cerita

Kawah Ijen sudah sangat terkenal namanya. Ya, kawah ijen adalah kawah di puncak Gunung Ijen, menjadikannya sebagai salah satu kawah tereksotis di Indonesia. Kawah ini menjadi tempat penambangan sulfur atau belerang dan menjadi lebih unik karena adanya blue fire. Konon api biru alami ini hanya ada dua di dunia yakni di Kawah Ijen dan Eslandia. Untuk mendaki kawah Ijen tidaklah gampang. Api biru hanya terlihat dari jam 3-5 pagi dengan demikian, wisatawan harus mulai mendaki dini hari jam 12 malam atau 1 pagi dini hari. Pendakian ini memerlukan waktu sekitar 2 jam an dengan tingkat kesulitan sedang. Jalur pendakian telah dibuat dan diratakan namun di beberapa sisi memang tingkat kemiringan pendakian bisa sekitar 50 derajat. Dengan demikian perlu adanya kekuatan fisik untuk bisa mencapai puncak Ijen. Tidak hanya itu, untuk bisa melihat api biru, maka kita perlu menuruni kawah. Jalurnya jauh lebih menantang karena berupa jalan berbatu terjal. Tidak mulus seperti pendakian ke puncak gunung. Jalur ke kawah ini sangat berbahaya dan perlu berhati-hati karena tidak ada pegangan menurun sama sekali.

 

Saat saya ke sana, suasana memang ramai. Wajar karena memang cuaca tidak hujan. Saya dan beberapa wisatawan lain dipandu oleh seorang pemandu. Pemandu ini dulunya adalah para penambang belerang di Ijen. Dia secara cakap menjelaskan tentang seluk beluk Ijen. Gunung Ijen memang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang baik mereka yang menambang belerang maupun mereka yang bekerja di sektor pariwisata entah sebagai pemandu, taksi gunung, penjual souvenir, penjual peralatan wisata seperti masker, ataupun penjual aneka makanan dan minuman. Berbicara tentang penambang Ijen, merupakan cerita unik dan kadangkala menurut saya menyedihkan. Para penambang ini sudah menambang sejak dini hari, mencari belerang yang sudah beku dan memikulnya dengan alat sederhana yang diletakkan di pundak. Sekali pikul bisa 50-60 kilogram belerang dibawa. Sehari bisa mengumpulkan sampai 150-200 kilogram belerang tergantung dari kemampuan penambang. Belerang tersebut dibawa dari dasar kawah ke atas puncak gunung, kemudian dari puncak gunung dibawa ke kaki gunung. Bisa dibayangkan sehari setidaknya mereka harus bolak balik 2-3 kali. Saya sendiri yang sekali PP dan tidak membawa beban apapun sudah merasa letih sekali, bagaimana dengan mereka dengan ratusan kilogram belerang di pundak. Tiap kilogram belerang diharga 1.000 rupiah dan dijual ke pengepul yang berasal dari perusahaan pengolah belerang yang ada di sekitar kawasan Ijen.

 

‘Kawah ijen yang indah dan menjadi berkah bagi banyak orang’

 

Ketahanan fisik bukan hanya syarat utama, namun ada resiko lain yang lebih mematikan yang dihadapi oleh para penambang ini. Pertama adalah asap belerang yang mungkin beracun. Ya, asap belerang yang keluar dari kawah Ijen mungkin saja beracun dan mematikan ketika dihirup saat itu juga. Yang saya lihat, para penambang kadang tidak menggunakan masker sebagaimana seharusnya. Sangat berbahaya sekali jika asap beracun ini muncul. Beberapa kali kawasan Kawah Ijen ini ditutup untuk penambang dan wisatawan karena adanya asap beracun ini. Kedua adalah resiko jatuh ketika melewati jalur kawah maupun puncak gunung. Jalur kawah yang sangat curam dan tidak ada pengaman yang layak bisa saja membuat penambang ini jatuh. Ketika jatuh maka potensi terbentur batu keras ataupun masuk langsung ke kawah yang mematikan bisa terjadi. Bagi saya, ini adalah nasihat dan pelajaran berharga tentang bagaimana anak manusia bertahan hidup. Menurut cerita mereka ‘terpaksa’ menambang karena memang tidak ada pilihan pekerjaan lain. Beberapa dari mereka akhirnya menjadi pemandu wisata atau supir taksi gunung. Apa itu supir taksi gunung? Ya jasa layanan angkut PP dari kaki gunung ke puncak Ijen dan lainnya dengan menggunakan kereta sorong yang selama ini digunakan untuk mengangkut belerang. Sekali PP harganya bisa mencapai 600 ribu rupiah untuk maksimal 2 orang. Taksi gunung ini dikendalikan oleh 2 orang supir dengan cari didorong dan ditarik. Kembali ke penambang, penting bagi kita semua untuk mensyukuri apa yang kita punya, profesi yang kita miliki saat ini dan bentuk lain dari karuhia Sang Pencipta. Tiap orang memiliki cobaan masing-masing dan jika kamu merasa apa yang kamu alami berat, cobalah datang ke Kawah Ijen dan melihat kehidupan para penambang belerang di sana, yang dari kacamata pribadi saya, sangat lah berat. Ya, sangat berat sekali malah.

 

Kamu juga bisa membantu perekonomian warga setempat dengan membeli oleh-oleh berupa belerang ijen. Belerang dengan bentuk asli serta bentuk yang sudah diukir/ dimodifikasi dapat kamu beli dari para penambang dengan harga yang relatif terjangkau.

 

‘Pantai Bama yang masih asri’

 

Liarnya Taman Nasional Baluran

Di Banyuwangi terdapat 2 taman nasional yakni Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo. Kabupaten yang luasnya hampir sama dengan Provinsi Bali ini memang mengandalkan objek wisata alam yang beranekaragam.

Saya sempat mengunjungi Baluran yang sebenarnya mayoritas wilayahnya ada di Kabupaten Situbondo. Baluran terkenal sebagai Afrika van Java karena adanya padang sabana yang luas. Untuk memasuki wilayah taman nasional ini, seperti akses ke taman nasional lainnya, dibutuhkan ijin. Tour lead kami mengurus perizinan di taman nasional dan membayar tiket masuk. Sebelum memasuki sabana, maka mobil kami melewati jalan setapak dengan kanan kiri adalah hutan yang masih asri. Setelah sampai di sabana, memang terlihat luas sekali dengan pemandangan Gunung Baluran di salah satu sisinya. Di sabana terlihat beberapa kawanan kerbau liar serta rusa. Di sini, hewan yang khas adalah kerbau liar, banteng, rusa, burung merak dan lainnya. Suasana Afrika akan lebih terasa jika musim kemarau tiba. Tepat di ujung taman nasional ini ada pantai bernama Pantai Bama. Saya sempat berkunjung ke sana pula. Pantainya masih bersih dan berpasir putih. Di sana banyak sekali monyet ekor abu-abu sehingga pengunjung harus hati-hati. Di sana juga terdapat hamparan hutan bakau yang masih asri.

 

‘Salah satu sudut Baluran dengan latar belakang Gunung Baluran’

 

Yang Perlu Kamu Ketahui dan Perhatikan

Mengunjungi Banyuwangi memang sangat menyenangkan. Ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan. Nah yang perlu kamu tahu bahwa ketersediaan transportasi umum di sana terbatas. Saya sendiri juga kesulitan ketika mencari ojek yang saya anggap sebagai transportasi tercepat dimanapun saya berada. Namun, warga setempat sangat tahu tentang wisatawan dan bisa mendeteksi mana wisatawan luar kota. Mereka tidak sungkan untuk menawarkan bantuan. Di sepanjang Banyuwangi juga tidak sulit menemukan tempat makan begitu juga penginapan. Di sepanjang Ketapang dapat ditemui aneka hotel mulai dari kelas melati hingga bintang 3. Selain itu tentu saja, kamu harus menjadi wisatawan yang bertanggungjawab dengan tidak melakukan vandalisme terhadap alam, sosial dan budaya dalam bentuk apapun. Menjaga dan menghormati kelestarian objek wisata yang kita kunjungi sama artinya dengan memastikan bahwa orang lain dan generasi berikutnya akan dapat menikmati apa yang bisa kita nikmati saat ini.