Collaboration . Empowerment . Contribution

Mengagumi Semar yang Bijaksana Itu

Mengagumi Semar yang Bijaksana Itu

Semar merupakan salah satu tokoh pewayangan. Menjadi bagian dari Punakawan, Semar adalah bapak dari Punakawan yang lainnya. Semar dikenal sebagai tokoh pewayangan yang bijaksana, tulus, jujur, sederhana, tanpa pamrih, cerdas, memiliki mata batin yang tajam dan pengetahuan yang luas. Digambarkan sebagai rakyat jelata, sejatinya semar adalah jelmaan dari Sang Hyang Ismaya. Semar merupakan tokoh pewayangan yang sakti mandraguna dan secara konsisten membela kebenaran.

 

Secara fisik, Semar digambarkan secara unik dan melambangkan dualisme di dunia ini. Wajahnya digambarkan tersenyum namun dari matanya berkaca-kaca. Hal ini melambangkan suka dan duka yang menyertai perjalanan manusia

 

Semar berwajah orang tua namun rambutnya seperti anak-anak yakni berbentuk kuncung. Hal ini melambangkan tua dan muda. Semar menyembunyikan tangan kanannya sebagai simbol bahwa kebaikan dan kelebihan itu baiknya disembunyikan atau tidak dipamerkan. Sedang tangan kirinya menunjuk satu yang bermakna menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

Karena kebijaksanaannya, Semar menjadi penasihat bagi banyak sekali ksatria dan raja yang antara lain: Prabu Herjuna Sasrabahu di negeri Maespati, Prabu Ramawijaya di negeri Pancawati, Raden Sakutrem satria Plasajenar, Raden Arjuna Wiwaha satria dari Madukara, Raden Abimanyu satria dari Plangkawati, dan Prabu Parikesit di negeri Ngastina. Bahkan para Dewa pun memanggil Semar dengan panggilan hormat: ‘Kakang’.

 

Beberapa nasihat yang diberikan oleh Semar kepada para ksatria di atas antara lain:

 

  • Sura dira jaya jayaningrat, leburing dening pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
  • Urip iku Urup. Hidup itu menyala. ¬†Hidup itu merupakan nyala jiwa. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi setiap orang disekitar kita.
  • Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sakti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha. Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan/mempermalukan yang kalah. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/keturunan. Kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.
  • Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara. Harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
  • Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan. Jangan gampang sakit hati ketika musibah/hasutan menimpa diri. Jangan sedih ketika kehilangan sesuatu.
  • Ojo adigang, adigung, adiguna. Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti
  • Ojo ketungkul marang kalungguhan, kadonyan, lan kemareman. Jangan terobsesi atau terpesona dengan kedudukan, materi, dan kepuasan duniawi.
  • Ojo kuminter mundak keblinger, ojo cidra mundak celaka. Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
  • Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman. Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut pada sesuatu, jangan cari perhatian atau manja.
  • Ojo milik barang kang melok, Ojo mangro mundak kendho. Jangan tergiur dengan hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah. Jangan berpikir gampang/plin-plan agar tidak kendur niat dan semangat.

 

Bagi saya sendiri, sangat menarik untuk mempelajari karakter dari Semar. Semar sendiri merupakan salah satu tokoh wayang yang menjadi favotit/ idola saya. Semoga kita bisa mencontoh sifat-sifat baik dari Semar ini.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *