Collaboration . Empowerment . Contribution

Materialisme: Opo Kowe Siap Mlarat?

Materialisme: Opo Kowe Siap Mlarat?

“Banyak orang yang bilang: anak-anak zaman sekarang makin matre. Dimana-mana matre tidak di daerah tidak di perkotaan semuanya sama.” Ya, umpatan atau keluhan semacam itu sering sekali saya dengarkan. Apakah benar? Apakah salah? Jawabannya adalah keduanya. Bahwa sifat matre itu sejatinya, menurut saya, adalah bawaan setiap orang. Tinggal bagaimana orangnya saja apakah bisa mengendalikan sifat tersebut atau tidak. Dunia, dengan banyak godaannya, memang semakin kompleks. Di kota-kota besar terutama, manusia bekerja banting tulang berkejar dengan waktu untuk bisa mendapat uang sebanyak mungkin. Mendapatkan promosi yang kemudian mendapat gaji dan tunjangan yang lebih besar. Ya, kemudian uang tersebut digunakan untuk membeli benda atau kebutuhan lainnya, yang kadang untuk menyokong gaya hidup dan status sosial.

 

Saat ini, memang makin banyak orang yang menganggap bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pakaian yang dia kenakan, aksesoris yang dia miliki, alat elektronik yang dia punya dan sifat kebendaan lainnya yang terukur dengan uang. Semakin branded dan mewah, maka semakin berkelas. Begitulah dunia semakin mengerucut ke arah situ. Apakah baik? Buat saya sendiri tidak baik karena di situ masyarakat didorong untuk melakukan penilaian dari apa yang kasat mata bukan dari dalam dan atribut yang orang tersebut miliki.

Rasa pengakuan sosial ini kadang mendorong pada frustasi yang berkepanjangan. Pertama bahwa apa yang dia miliki selalu dibandingkan dengan milik orang lain. Hal ini sering membuat dia merasa kurang. Kedua bahwa hal ini mendorong adanya semacam social climber yang mana seseorang rela berhutang atau bahkan menipu untuk mendapatkan pengakuan sosial ini. Contoh sederhananya adalah jika kamu pengguna media sosial, maka orang akan suka memamerkan apa yang dia punya, apa yang dia dapat dan lainnya agar orang lain tahu. Entah niatnya apa, namun pasti ada saja yang ingin menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah mencapai titik tersebut. Titik dimana orang lain seperti umumnya ingin berada di situ. Materialisme juga mungkin menimbulkan adanya frustasi yang berkepanjangan. Saya memiliki seorang teman yang bekerja di bidang hukum. Untuk seumuran dia, saya bisa bilang dia anak muda sukses karir dan tajir. Tiap weekend hampir dia selalu bepergian jalan-jalan entah ke bagian mana Indonesia atau bahkan luar negeri. Bisa dibayangkan berapa uang yang dibutuhkan untuk hal-hal seperti itu. Belum lagi kebiasaan dia yang sering makan di tempat-tempat mewah. Namun dia masih merasa ada yang kurang, selalu mengeluh ini itu, padahal dari kacamata orang lain mungkin dia hidup dalam mimpi/ impian kebanyakan orang pada umumnya. Materialisme mendorong orang untuk kurang bersyukur tentang apa banyak karunia yang diberikan Tuhan yang justru tidak ternilai harganya.

 

 

Sederhana dan Bersahaja

Pernahkah kamu bertanya kepada orang desa tentang apa yang menjadi tujuan hidup mereka? Apakah uang? Saya yakin mayoritas adalah tidak. Jika kamu bertanya kepada orang yang sudah tua, generasi X. Maka jawabannya mungkin akan mengejutkan. “Urip iku mung numpang ngombe,” atau hidup itu cuma menumpang minum, cukup singkat dan apa yang kamu cari. Kemudian mereka akan menjawab jikapun diberikan rezeki oleh tuhan, maka mereka akan senang bisa menggunakannya untuk lungo ngulon. Lungo ngulon artinya berangkat ke barat. Barat dalam hal ini adalah ke Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji. Ibadah haji adalah impian banyak orang termasuk warga di desa-desa. Mereka menabung dan rela tidak membeli banyak harta benda lainnya untuk bisa digunakan sebagai tabungan haji atau setidaknya umrah. Tidak ada itu ceritanya ingin baju dengan merek terkenal mendunia. Bagi banyak orang substance over form lebih penting yakni fungsi inti lebih dari sekedar bungkus. Ini pula yang sekiranya perlu dipahami dan dilaksanakan oleh banyak orang termasuk saya. Bahwa tidak selamanya yang keren, mahal dan tujuannya untuk pamer kepada sesama adalah sesuatu yang layak dikejar. Apalagi dengan mengorbankan banyak hal lainnya. Jangan sampai impian kita untuk kaya raya namun tidak diimbangi dengan ekspektasi untuk hidup miskin melarat. Bahwa kaya itu adalah harapan namun miskin adalah kepastian, itu yang perlu kita selalu ingat. Prepare the best, ready for the worst.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *