Collaboration . Empowerment . Contribution

Travelling Escape: Merasakan Surga di Pulau Tidung

Travelling Escape: Merasakan Surga di Pulau Tidung

Kita memang harus bersyukur bahwa kita dianugerahi negeri yang sangat indah. Negeri yang terbetang luas dari Sabang sampai Merauke dan dari Talaud sampai Pulau Rote. Negeri yang memiliki bentang alam, budaya, dan sosial yang beranekaragam, yang mungkin pernah habis untuk dijelajahi dan diceritakan. Bagi saya sendiri setiap daerah di Indonesia memiliki rangkaian cerita unik nan menarik untuk diketahui lebih lanjut. Hal ini pula yang membuat saya memiliki daftar destinasi impian di Indonesia. Alih-alih pergi ke luar negeri dan mengabiskan uang di negara orang, saya lebih suka mewujudkan destinasi impian saya tersebut. Ya, tidak terasa memang sudah tiga tahun lebih saya tidak menjejakkan kaki di negeri orang dan lebih asyik bepergian ke beberapa daerah eksotis di Indonesia. Kebahagiaan yang saya dapat dengan berjumpa saudara se-Tanah Air saya dimana saya bisa belajar banyak hal baru dari mereka, termasuk kearifan lokal yang mereka miliki.

Ngomong-ngomong soal destinasi eksotis, Indonesia memang sangat kaya. Orang bilang semakin ke timur wilayah Indonesia maka level keeksotisme-annya juga semakin besar Hal ini memang ada benarnya, namun perlu diingat bahwa menikmati Indonesia timur tidaklah murah. Namun jangan salah, dengan budget wisata minimpun kita tetap bisa menikmati ‘surga’ nusantara tersebut. Bagi penduduk Jakarta, menemukan tempat eksotis tidaklah sulit. Cobalah tengok apa yang Kepulauan Seribu bisa tawarkan kepada teman-teman. Pendapat bahwa menikmati tempat yang eksotis akan selalu mahal kadang akan terbantahkan di sini.

Kepulauan Seribu merupakan kabupaten administratif di Provinsi DKI Jakarta. Seperti halnya namanya, kabupaten administratif ini memang berupa kepulauan. Jumlahnya memang tidak mencapai ribuan namun ‘hanya’ berjumlah 342 pulau. Hanya 11 pulau dari ratusan pulau tersebut yang berpenghuni, didiami oleh sekitar 20 ribuan jiwa. Perikanan dan kelautan tetap menjadi sumber ekonomi warga sekitar. Namun keberadaan pariwisata yang semakin berkembang juga menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di sini. Beberapa pulau yang menjadi tujuan wisata antara lain Pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Matahari, Pulau Kotok Besar, Pulau Tidung, Pulau Sepa dan sebagainya.

 

Menemukan Sepi di Ramainya Pulau Tidung

Kapal laut yang akan membawa saya dan rombongan sudah bersiap di dermaga Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Ya pagi itu terlihat banyak sekali rombongan wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya yang ingin menghabiskan liburannya di Kepulauan Seribu. Keberadaan pelabuhan yang kurang tertata menjadi terlihat lebih semrawut dengan ratusan (atau mungkin ribuah) wisatawan pagi itu. Untuk mengunjungi Kepulauan Seribu memang bisa ditempuh melalui 2 jalur. Pertama adalah melalui Pelabuhan rakyat Muara Angke. Ini adalah pelabuhan di mana masyarakat yang tinggal di sekitar Muara Angke ‘memakirkan’ kapal-kapal yang mereka gunakan untuk melaut dan mencari ikan. Seperti halnya pelabuhan ikan lainnya, di sisi lain ada pasar pelelangan ikan. Di sana, siapapun bisa membeli aneka ikan dan hasil laut yang masih segar. Tidak hanya itu, pembeli juga bisa meminta apa yang dibeli dimasak langsung oleh penjualnya. Jalur kedua adalah melalui Pelabuhan Marina yang ada di Ancol. Tentunya, melalui jalur kedua ini akan lebih mahal ongkosnya mengingat kapal yang digunakan untuk menuju Kepulauan Seribu adalah kapal speed boat. Berbeda dengan di Pelabuhan Muara Angke yang menggunakan kapal kayu bermotor. Wisatawan biasanya membeli paket wisata ke Kepulauan Seribu yang sudah disediakan oleh berbagai agen wisata. Paketnya juga beranekaragam, makin mahal maka fasilitas dan destinasi yang akan ditawarkan juga makin menarik. Dari apa yang saya lihat, paket paling sederhana adalah paket wisata 2 hari 1 malam, harganya paling murah adalah sekitar 300 ribuan sudah termasuk transportasi, akomodasi dan konsumsi selama perjalanan wisata tersebut.

Tujuan saya kali ini adalah ke Pulau Tidung, salah satu tujuan favorit wisatawan. Salah satu pulau terbesar di Kepulauan Seribu ini menawarkan banyak fasilitas wisata yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau tetangganya. Kapal motor membawa kami sampai ke tempat itu sekitar 3 jam. Ketika pertama kali bersandar di pelabuhan Pulau Tidung, saya lantas bisa melihat betapa mass tourism telah mengundang banyak sekali orang untuk berkunjung ke sini. Tidak ada hotel khusus di Pulau Tidung. Wisatawan biasanya menginap di penginapan sederhana milik warga atau menginap di rumah warga. Saya waktu itu menginap di rumah warga, sebut saja Ibu Endah. Ibu Endah selama ini memang menyediakan rumahnya untuk disewa oleh wisatawan. Rumahnya memang tidak terlalu besar dan hanya terdiri dari 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Setidaknya muat untuk menampung sekitar 8 orang wisatawan dalam waktu  yang bersamaan sekaligus. Bu Endah juga menyediakan makanan rumahan selama kami berada di pulau tersebut. Ya, cocoklah dengan paket wisata murah yang kami bayarkan. Bu Endah memang merasa beruntung bahwa rumahnya sering disewa sebagai penginapan untuk wisatawan. Dengan demikian dia memndapatkan penghasilan tambahan untuk membantu suaminya yang bekerja sebagai nelayan, agar dapur tetap mengepul.

Suasana pulau ini memang sangat hiruk pikuk terutama ketika weekend. Wisatawan terlihat sibuk mondar mandir baik yang berjalan kaki, naik sepeda atau naik semacam becak motor yang memang menjadi salah satu transportasi umum di sana. Benar-benar pulau yang ramai, begitu menurut saya. Bagi saya yang lebih suka tempat yang hening, maka pulau ini sepertinya bukan tempat yang tepat. Tapi saya mungkin berpikir ulang karena ada beberapa sisi di sana dimana saya bisa menemukan keheningan.

Bersepeda adalah salah satu aktivitas yang lumrah dilakukan di sana. Sepeda aneka rupa dan warna disewakan oleh penduduk dengan harga yang murah. Bagi wisatawan yang pergi ke Pulau Tidung dengan menggunakan jasa paket wisata, biasanya harga yang dibayar sudah termasuk sewa sepeda. Bagi saya yang suka bersepeda, bersepeda di tepi pantai menjadi hal yang sangat menyenangkan. Kayuhan sepeda saya akhirnya membawa saya ke sudut timur ini ke spot yang sangat terkenal yakni jembatan cinta, jembatan yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.  Entah kenapa jembatan ini disebut jembatan cinta. Yang jelas ini adalah salah satu sisi favorit wisatawan untuk mengabadikan momen mereka di pulau ini. Kata orang tidak lengkap jika tidak foto di jembatan cinta Pulau Tidung. Suasana gegap gempita semakin terasa ketika wisatawan cukup ramai menikmati wahana olahraga air seperti babana boat dan lainnya. Wah, ramenya benar-benar seperti pasar. Suasana malam di sekitar jembatan cinta juga tidak kalah ramai. Area tersebut menjadi area favorit bagi wisatawan untuk berkumpul, menggelar acara musik, atau sekedar membakar ikan atau seafood lainnya. Di sekitaran situ juga terdapat beberapa warung yang mayoritas menyajikan seafood untuk wisatawan. Suasana baru akan sepi ketika tengah malam datang.

Kala itu sore mulai datang, dan kayuhan sepeda saya bergerak ke arah berlawanan menjauhi ramainya area jembatan cinta. Ya, saya sedang berusaha untuk mengejar panorama matahari terbenam di salah satu sisi barat pulau tersebut. Saya disajikan oleh pemandangan langit yang warnanya beranekarupa; biru dan jingga serta sinar matahari yang menyembul dari beberapa sisi langit yang sedang gelap tertutup mendung. Memang saya beruntung, ketika saya menoleh ke salah satu sisi langit saya melihat pelangi, jelas sekali. Indah sekali di mata saya. Beberapa orang lain yang melihat pelangi itu tak pelak segera mengabadikan momen mereka di bawah pelangi Pulau Tidung. Saya akhirnya sampai di salah satu sisi barat pulau itu. Wah suasana sepi yang saya damba akhirnya berada di depan mata. Panorama langit yang memainkan warna biru, hitam dan jingga membuat saya merasakan kedamaian di tengah hiruk pikuk pulau ini. Indah sekali, sungguh eksotis sekali. Ya, tidak perlu jauh-jauh karena di Jakarta juga banyak tempat eksotis untuk menikmati matahari terbenam.

Banyak wisatawan yang merupakan sunrise chaser atau pemburu matahari terbit. Saya juga tentunya tidak ingin melewatkan matahari terbit di pulau ini. Dan tidak ada pilihan selain area sekitar jembatan cinta untuk menyambut munculnya mentari. Pagi-pagi setelah subuh, saya mengayuh sepeda saya menuju tempat ini. Beruntung saat itu, saya datang lebih awal sehingga di sana masih sepi. Hm, menikmati matahari pagi di sana memang sangat menyenangkan. Udara segar pagi hari dipadu dengan sinar matahari yang baru menyembul dari ufuk timur seolah membuat saya terlalu betah di sana, dan tidak mau pulang.

 

Hati-Hati Kaki!

Salah satu kegiatan utama yang dilakukan wisatawan ketika berlibur di Kepulauan Seribu adalah melakukan akitivitas snorkeling dan diving. Namun, snorkeling menjadi pilihan favorit wisatawan karena tingkat kemudahan, aspek harga dan peralatan yang dibutuhkan jauh lebih gampang dibandingkan dengan diving. Kami dan rombongan pagi itu diajak untuk snorkeling di tiga titik berbeda. Kepulauan Seribu memang terkenal akan terumbu karangnya yang beranekaragam. Di sana juga terdapat areal Taman Nasional Kepulauan Seribu yang menawarkan keindahan alam bawah laut yang memukau. Beberapa titik snorkeling dan selam di sana antara lain di sekitar Pulau Semak Daun, Pulau Sepa, Pulau Gosonglaga, Pulau Kotok, pulau Peniki dan Pulau Matahari. Saya pernah pergi snorkeling ke beberapa tempat di negeri ini dan apa yang saya pelajari adalah terkait ‘penghormatan’ kita atas kelestarian terumbu karang. Banyak hal yang kurang etis yang dilakukan oleh wisatawan ketika melakukan snorkeling. Yang mana hal ini bisa merusak kelestarian terumbu karang. Sebagian besar terumbu karang perlu waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Jadi bisa dibayangkan entah kapan terumbu karang yang rusak akan kembali seperti sedia kala.

Saya melihat bahwa:

  1. Tidak semua wisatawan  pernah melakukan snorkeling jadi bisa dibilang ini adalah pertama kalinya mereka melakukan snorkeling
  2. Bagi yang pernah melakukan snorkeling pun tidak semuanya tahu tentang bagaimana etika dalam melakukan olahraga air ini

Banyak di antara mereka yang:

  1. dengan santainya berenang di pantai yang dangkal dimana kibasan kaki katak yang mereka pakai tentu saja akan mengenai terumbu karang yang ada di sana
  2. secara sengaja atau tidak sengaja berdiri di atas terumbu karang
  3. secara sengaja atau tidak sengaja bahkan terlihat mematahkan terumbu karang dan mengambilnya sebagai souvenir

Tidak hanya satu atau dua orang saja namun beberapa orang. Jika hal ini dilakukan oleh banyak lainnya, maka tentu terumbu-terumbu karang itu akan rusak. Jika terumbu karang rusak, maka ekosistem di sekitarnya juga akan terganggu dan tentu akan membawa akibat buruk pada perikanan yang menjadi sumber ekonomi utama masyarakat sekitar. Lebih jauh lagi, pariwisata juga akan terhambat karena keindahan terumbu karang menjadi salah satu magnet utama kenapa wisatawan datang ke Kepulauan Seribu.

Menjadi tanggungjawab semua pihak untuk menjadi pejalan yang bertanggungjawab. Adapun yang bisa kita lakukan;

  1. Sebelum melakukan snorkeling, hendaknya mencari tahu tentang seluk beluk olahraga ini termasuk tata cara dan peralatan yang digunakan
  2. Mencari tahu bagaimana melakukan snorkeling yang tidak membahayakan kelestarian terumbu karang
  3. Memahami jenis-jenis terumbu karang dan ikan yang ada di destinasi wisata. Beberapa terumbu karang adalah beracun. Faktanya banyak sekali wisatawan yang memegang terumbu karang karena penasaran

Tanggungjawab ini juga melekat ke penyedia paket wisata di Kepulauan Seribu. Tidak banyak yang saya tahu yang memberikan arahan singkat tentang 3 poin di atas. ‘Sebar kaki katak dan pelampung’ dan semuanya selesai, itu yang selama ini saya lihat dilakukan oleh penyedia paket wisata. Tidak hanya di Kepulauan Seribu namun juga tempat-tempat lainnya di Indonesia. Menjadi pejalan serampangan yang tidak tahu aturan sudah out of date. Sudah saatnya bagi kita untu menjadi pejalan yang baik dengan menghargai kelestarian alam di destinasi wisata yang kita tuju. Cobalah bayangkan jika Pulau Tidung dan sekelilingnya atau pulau-pulau lain kehilangan daya tarik wisatanya karena terumbu karangnya yang rusak. Tentu warga lokal seperti Bu Endah dan lainnya akan kehilangan mata pencaharian alternatifnya dari sektor pariwisata. Mari menjadi pejalan yang bertanggungjawab!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *