Collaboration . Empowerment . Contribution

Menjadi Reproter Volunteer di Festival Yoga Gembira 2015-2016

Menjadi Reproter Volunteer di Festival Yoga Gembira 2015-2016

Pada 2015-2016 lalu saya menjadi reporter volunteer di Festival Yoga Gembira. Festival ini adalah event tahunan yang digelar oleh Komunitas Yoga Gembira dan bertempat di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Event yang digelar beberapa hari ini menghadirkan berbagai kelas yoga yang dibawakan oleh berbagai yogi bahkan dari luar negeri. Tidak hanya kelas yoga, beberapa seminar singkat juga diadakan misalnya Yoga dan Lingkungan Hidup, Pola Makan Sehat, serta kegiatan sosial bersama anak-anak.

 

Saya sendiri beberapa tahun belakangan ini memang belajar yoga. Yoga sebagai olahraga dan gaya hidup memberikan banyak sekali manfaat selain kelenturan badan, kesehatan juga pikiran yang tenang. Sebagai reporter, maka tugas saya tentu meliput acara dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sebagai volunteer, banyak sekali manfaat yang saya dapat misalnya free access ke berbagai kelas dan agenda acara sehingga dapat belajar banyak hal baru, bertemu dengan panitia dan volunteer lainnya serta berkesempatan berinteraksi dengan penyuka yoga yang datang dari berbagai daerah. Berikut ini adalah beberapa tulisan yang saya buat:

 

‘Peserta serius mengikuti jalannya kelas’

 

Kelas Donasi oleh Yudhi Widyantoro

Yoga yang Menyebarkan Pagi di Taman Menteng

 

Suasana pagi hari di Taman Menteng, Jakarta Pusat pecah karena kehadiran puluhan orang peserta Yoga Festival 2016. Pagi ini mulai jam 7 pagi ada beberapa kelas yang dibuka. Salah satunya adalah kelas donasi Yudhi Widyantoro. Kelas donasi adalah kelas gratis yang bisa diikuti oleh siapa saja. Disebut kelas donasi karena di akhir kelas peserta dapat memberikan donasi yang lantas akan diberikan ke beberapa yayasan sosial yang menjadi rekanan Festival Yoga Gembira tahun ini seperti Yayasan Anak Akar, Yogs Foundation, dan Taman Bacaan Pelangi.

 

Kelas ini diikuti oleh 20 orang. Mas Yudhi membuka kelas dengan menerangkan tujuan dari yoga bahwa selain untuk mendapatkan tubuh yang bugar juga untuk mendapatkan keseimbangan dan kedamaian. Mas Yudhi memulai kelas dengan beberapa gerakan dasar yoga yang bisa dilakukan oleh peserta yang juga banyak merupakan newbie dalam yoga ini. Menurut Mas Yudhi, bahwa kelas pagi itu memang selain untuk mengajarkan dan mengajak peserta melakukan berbagai gerakan yoga dasar juga mengajak mereka untuk berbagi melalui donasi sesuai dengan kemauan masing-masing.

 

Berbagai gerakan dilakukan dalam sesi pagi ini baik yang sendirian maupun berpasangan misalnya gerakan dolphin, pyramid dan lainnya. Mas Yudhi juga terlihat aktif berpindah dari satu peserta ke peserta yang lain untuk membantu mereka.

 

Christian salah satu peserta, di akhir acara mengatakan: “Gerakan yang dilakukan di kelas tadi mudah diikuti dan sudah sering saya lakukan. Tubuh menjadi enak dan bugar.” Christian sendiri sering mengikuti kelas Yoga Gembira tiap Minggu pagi di Taman Menteng.

 

Agustine dan Indri, peserta lainnya, mengatakan bahwa kelas tadi bisa membuat badan lebih fit dan lebih bersemangat terlebih dilakukan di pagi hari. Mereka juga sudah tidak asing lagi dengan Mas Yudhi.

 

Di akhir kelas, Mas Yudhi meminta peserta untuk duduk berkeliling bersila. Sambil meletakkan tangan di depan dada, peserta diminta berkonsentrasi dan merasakan kedamaian serta rasa syukur. Kemudian tangan diletakkan di dada untuk berterima kasih kepada diri atas apa yang selama ini diberikan. Kelas-kelas masih terus dibuka sampai hari Minggu sore, sampai berjumpa di kelas Yoga Gembira Festival lainnya!

 

‘Kelas Yumeho berlangsung dengan antusiasme peserta yang besar’

Kelas Yumeiho oleh Urip Herdiman Kambali

Yumeiho untuk Membetulkan Tulang Pinggul, Tulang Belakang dan Persendian

 

Siang yang terik tidak membatasi keriuhan dan ketertarikan para peserta kelas-kelas yoga di Festival Yoga Gembira 2016. Tepat jam 13.30 WIB di panggung utama digelar kelas Yumeiho yang dipandu oleh Mas Urip Herdiman kambali. Mas Urip adalah tercatat sebagai terapis shiatsu dan terapis yumeiho.

 

Jika menilik sejarah, maka Yumeiho merupakan terapi yang dikembangkan oleh pemuda Jepang bernama Suichi Ohno yang tertarik dengan seni beladiri kungfu di kuil Shaolin, Tiongkok pada masa Perang Dunia II. Selain kungfu, ia juga memperdalam terapi relokada yang merupakana bagan dari seni beladiri Shaolin. Setelah kembali ke jepang, Ohno menggabungkan terapi yang dipelajarinya di Tiongkok dengan terapi-terapi asli Jepang, dengan penekanan pada terapi tekan pijat yang pembetulan tulang pinggul dan menggabungkan dengan terapi relokada.

 

Murid Ohno, Masayuki Saionji yang sangat berbakat, menyusun ulang secara sistematis ajaran dari gurunya. Ia pun menanamkannya sebagai ‘terapi yumeiho’ berdasarkan terapi Tionghoa Zheng Ti Fa, yang artinya ‘terapi yang menyeluruh’. Saionji kemudian berhasil mengembangkan terapi Yumeiho ke luar Jepang. Perkembangan Terapi Yumeiho parallel dengan aktivitasnya sebagai penggiat bahasa Esperanto.

 

Di Indonesia sendiri, terapi ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 2004 di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Bogor. Sejak itu, terapi ini dikenal luas oleh masyarakat. Perkembangan ini diikuti dengan terbitnya buku ‘Terapi Yumeiho, Terapi Pijat-Urut Pembetulan Tulang Pinggul’ terbitan Pustaka Pelajar, sebuah penerbit di Jogja tahun 2006.

 

Nah lantas apa yang membedakan Yumeiho ini? Sejak awal sudah ditekankan bahwa tekni ini adalah tekni pijat, tekan dan urut dan memusatkan pada bagian punggung dan pinggul. Ada sekitar 25 gerakan yang mana ketika dilakukan tiap gerakan dilakukan sebanyak 3 kali dan dalam hitungan 1-10. Mas Urip mempraktekkan beberapa gerakan kepada peserta dan mereka diajak berpraktek sendiri. Yumeiho dilakukan secara berpasang-basangan. Pasien atau objek terapi diminta untuk berbaring sedang terapisnya akan berdiri. Gerakan pertama misalnya terapis akan meminta pasien untuk mengangkat kedua kakinya ke langit secara tegak lurus 90 derajat. Terapis lantas akan menekan kaki tersebut sampai punggung pasien benar-benar tegak lurus.

 

Mas Urip sendiri mengatakan bahwa terapi ini memang digunakan untuk membetulkan tulang punggung, pinggul dan persendian misalnya masalah bungkuk. Namun perlu dilakukan latihan secara rutin. Selain itu, yumeiho ini tergolong aman dilakukan oleh siapa saja sepanjang dengan terapis yang tepat. Manfaat yang didapat pasien antara lain melenturkan otot,

 

Salah satu peserta yang bernama Din mengatakan bahwa apa yang dipelajari selama kelas hamper sama dengan teknik Kiro yang selama ini dia pelajari. Dengan demikian dia tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti apa yang dikatakan oleh Mas Urip.

 

Terapi yumeiho memang dapat memberikan manfaat dan akan memberikan hasil jika dilakukan secara teratur dan terprogram. Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut tentang yumeiho, silahkan untuk kontak Mas Urip di nomor berikut ini: 0812 8191 0157.

 

‘Kelas sport massage’

 

Kelas Sport Massage: Functional Rehabilitation oleh Tommy Fondy dan Catur Ferdaniel

Kelas yang Sangat Diperlukan Oleh Mereka yang Gemar Olahraga

 

Bagi siapapun yang gemar berolahraga maka potensi timbulnya cedera akan selalu ada, baik yang sifatnya cedera dalam maupun cedera yang disertai dengan luka terbuka. Kadang kala hal ini kurang dipahami oleh banyak orang, akibatnya ketika terjadi yang pertama muncul adalah kalut, lantas salah urus dan akhirnya cedera menjadi lebih parah.

 

Nah pada hari kedua dari Yoga Gembira Festival 2016 ada kelas khusus bertajuk Sport Massage: Functional Rehabilitation yang difasilitasi oleh Tommy Fondy dan Catur Ferdaniel. Kelas dibuka dengan pertanyaan kepada peserta yang berjumlah sekitar 20an: ‘siapa yang pernah mengalami cedera dan bagaimana cara mengatasinya?’ Jawaban peserta berbeda-beda dan beberapa lainnya tidak menjawab. Tommy Fondy lantas menjawab bahwa ketidaktahuan tentang cara untuk mengatasi cedera akan membuat cedera lebih parah. Contoh sederhana adalah misalnya ketika terjadi memar, maka orang justru akan menyiramkan air hangat padahal hal ini justru akan membuat peredaran darah menjadi lebih terbuka lebar dan cedera akan lebih parah. Cara yang paling tepat adalah sebagai berikut:

  1. bongkahan es dimasukkan ke dalam kantong plastik atau kantong lainnya
  2. ambil dengan menggunakan bongkahan es dan jika memungkinkan maka hancurkan bongkahan tersebut
  3. bongkahan dihancurkan karena akan lebih dapat menyesuaikan dengan kontur tubuh yang berliku
  4. kantong tersebut kemudian digosok gosokkan secara pelan di kulit yang sekiranya terdapat cedera

 

Kelas lantas dilanjutkan dengan melakukan praktek penanganan cedera di berbagai bagian tubuh. Yang pertama adalah di pelantar kaki, telapak kaki, tumit, betis dan tumit. Tommy mempraktekkan di depan panggung utama dengan mengajak salah satu peserta yang mengalami cedera di bagian tubuh yang bersangkutan. Lantas, peserta secara berpasangan mempraktekkan sendiri. Peserta terlihat sangat antusias, dengan menggunakan minyak yang disediakan oleh pengisi kelas, mereka mencoba melakukan sport massage dengan cara yang dijelaskan. Terlihat para peserta sangat menikmati kelas tersebut.

 

Salah satu peserta yakni Budi ketika ditanya mengatakan bahwa kelas tersebut memberikan point of view berbeda dengan apa yang selama ini dipelajari dan dipraktekkan. Budi sendiri merupakan pelatih yoga dan terbiasa dalam menangani cedera.

 

Untuk bisa belajar lebih lanjut, maka peserta dapat membeli buku dan DVD yang dibuat oleh Tommy Fondy atau mengikuti one day workshop yang dilakukan di Yoga Studio Kawasan Kalibata pada Minggu, 15 Mei 2016. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi Healing Clinic di 08989 9881 57.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *