Collaboration . Empowerment . Contribution

Month: January 2017

When Your Sister’s Birthday Becomes Your Own Birthday

When Your Sister’s Birthday Becomes Your Own Birthday

5 tahun yang lalu kakak saya berulang tahun yang ke-29. Pada saat itu, kebetulan saya sedang di rumah kampung halaman. Bersama dengan sepupu, saya memberikan kejutan kecil kepada yang bersangkutan dengan membelikan kue ulang tahun. Bagi keluarga kami, dan masyarakat di sekitar rumah kami, merayakan […]

Berbagi Bersama IMUIJOMBANG & Siswa Siswi SMA Jombang

Berbagi Bersama IMUIJOMBANG & Siswa Siswi SMA Jombang

IMUIJO atau Ikatan Mahasiswa Universitas Indonesia dari Jombang, dari namanya saja sudah bisa terlihat bahwa ini adalah organisasi perkumpulan mahasiswa-mahasiswi yang berkuliah di Universitas Indonesia, yang berasal dari Jombang, Jawa Timur. Ya, karena saya berasal dari sana, ya saya juga menjadi bagian dari perkumpulan ini. […]

Good Day with Nusy

Good Day with Nusy

Salah satu orang pertama yang saya kenal ketika memulai perkuliahan di Universitas Indonesia adalah Nusy, lengkapnya Nusy Febrica. Dia adalah mahasiswa jurusan akuntansi angkatan 2005. Perkenalan saya dengan Nusy adalah ketika masa-masa Orientasi Pengenalan Kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI, dulu namanya adalah FEUI). Dia adalah mentor untuk kelompok Rielly, salah satu kelompok yang terdiri dari mahasiswa baru kala itu, dimana saya menjadi ketua kelompok tersebut. Ya, dari Nusy setidaknya saya mengenal bagaimana kehidupan kampus dan hal-hal terkait lainnya. Saat ini Nusy adalah teman baik saya, dan saya dulu sering bertemu dengan yang bersangkutan sebelum yang bersangkutan berkuliah MBA di Melbourne University dan akhirnya menetap di sana.

 

‘Berkaca, tapi kok bayangannya beda wkwk’

 

Salah satu hal konyol yang pernah saya lakukan adalah berfoto ala-ala dengan yang bersangkutan di ajang pameran trick art yang digelar di salah satu mall di Jakarta. Nah, di pameran ini memang disajikan berbagai lukisan, objek 3 dimensi atau sejenisnya yang membuat orang heran dan terkagum dan seolah ada trik di dalamnya. Pameran yang diusung oleh seniman dari Jepang ini memang mengundang banyak sekali perhatian dan kedatangan pengunjung. Nah, berikut ini ada sedikit dari banyak kekonyolan yang kami lakukan saat itu ehehe.

 

‘Jadi raksasa, atau gw nya aja yang emang uda gemuk ehehe’

 

‘Ajaib kan bisa berdiri di atas drum ahaha’

 

‘Kura-kuranya mecungul keluar dari pigora’

 

 

 

Senang bisa menghabiskan sedikit waktu dengan teman dengan cara konyol. Semoga kita selalu punya kesempatan untuk bersilaturahmi dengan sesama ya.

 

Alhamdulillah Akhirnya Punya Rumah Juga

Alhamdulillah Akhirnya Punya Rumah Juga

“Home is not a place. It is a feeling” “Home is where hearth is”   Alhamduillah adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika saya akhirnya memiliki rumah sendiri. Ya, sesuatu yang saya impikan sejak dulu setelah beberapa kali selama sepuluh tahun saya berpindah-pindah tempat tinggal […]

Mengagumi Semar yang Bijaksana Itu

Mengagumi Semar yang Bijaksana Itu

Semar merupakan salah satu tokoh pewayangan. Menjadi bagian dari Punakawan, Semar adalah bapak dari Punakawan yang lainnya. Semar dikenal sebagai tokoh pewayangan yang bijaksana, tulus, jujur, sederhana, tanpa pamrih, cerdas, memiliki mata batin yang tajam dan pengetahuan yang luas. Digambarkan sebagai rakyat jelata, sejatinya semar […]

Indahnya Makna Gunungan Wayang

Indahnya Makna Gunungan Wayang

Gunungan wayang atau kayon adalah wayang berbentuk seperti gunung dengan aneka detail tumbuhan, hewan dan bentuk lain di dalamnya. Digunakan oleh dalang ketika membuka pertunjukan wayang, di sela-sela pertunjukan wayang dan di akhir pertunjukan tersebut. Saya sendiri sudah lama mengagumi makna di balik gunungan ini. Ada banyak sekali nilai luhur yang ada di dalamnya termasuk makna dari tiap detail gambar yang ada. Berikut ini penjelasannya yang saya copy paste langsung dari sumber yang saya tulis di bagian bawah artikel ini.

 

Gunungan pada Wayang Kulit berbentuk kerucut (lancip), disini melambangkan kehidupan manusia, semakin tinggi ilmu kita dan bertambah usia, kita harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling jiwa, rasa, cipta, karsa dan karya dalam kehidupan kita. Singkatnya, hidup manusia ini untuk menuju yang di atas (Tuhan).

 

 

Filosofi Hidup Sebuah Gunungan

Dari sisi filosofis, gunungan memiliki bobot lebih dibanding dengan tokoh wayang yang lain. Gunungan menjadi lambang hidup dan penghidupan, di dalamnya tersimpan filsafat sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup), jagad gedhe (alam semesta beserta isinya) dan jagad cilik (pribadi manusia, tataran atau tingkatan kehidupan manusia). Penyebutan nama kayon sendiri memiliki makna yang dalam. Kayon berasal dari kata kayun (kehendak, kajeng, karep), sehingga kayon mewujudkan kehendak manusia yang berubah (tidak tetap) dan menuruti apa yang dibutuhkan. Ini sama halnya dengan gunungan yang meskipun hanya satu dan isinya digonta-ganti, namun tetap disebut dengan gunungan. Tapi setelah dipegang oleh dalang bisa menjadi kehendak bermacam-macam, sesuai kehendak dalang.

 

Ki Timbul Hadiprayitno memiliki penafsiran terhadap wujud gunungan sebagai perlambang sangkan paraning dumadi. Gunungan atau kayon yang berbentuk segitiga memiliki arti yang bermacam-macam. Sudut paling atas melambangkan kodrat Ilahi yaitu roh atau sukma atau badan halus. Sementara sudut di sebelah kiri bawah menggambarkan roh yang lahir menjadi manusia melalui perantaraan perkawinan antara ayah dan ibu. Adapun sudut kanan bawah melukiskan roh yang dapat hidup dan memiliki wujud (jasad)  sebab adanya empat unsur kehidupan yakni bumi, api, air, dan angin.

 

Penancapan Kayon dan Sisi Lain Kehidupan

Penancapan kayon dalam pementasan wayang kulit juga memiliki arti filosofis tersendiri. Aturan penancapan kayon dalam pementasan wayang yakni, dalam menancapkan kayon di pakeliran secara tegak ialah pada waktu pembukaan, pada waktu dimulainya gara-gara, dan pada waktu penutupan atau berakhirnya pagelaran. Kemudian tancapan miring ke kanan atau ke kiri ialah pada saat permulaan dari gending pathet sanga setelah tancapan kayon untuk gara-gara. Jika ditarik lurus, maka kayon itu menggambarkan ujung sudut segitiga.

 

Makna ketiga cara penancapan gunungan tersebut ialah Tri Wikrama atau tiga kali melangkah yang merupakan lambang dari kehidupan yang juga mengalami proses tiga kali yang disebut Purwa, Madya, dan Wasana. Sebagai misal yang terjadi pada diri manusia; masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua. Demikian pula halnya pada hewani serta tumbuh-tumbuhan. Bisa juga diartikan dengan dari ora ana (tidak ada) menjadi ana (ada) dan kemudian menjadi ora ana (tidak ada) kembali.

 

Kayon juga melambangkan semua kehidupan yang terdapat dalam jagad raya (dunia) yang mengalami tiga tahap (tingkatan) yakni,

  • Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan yang beberapa orang mengartikan bahwa gambar pepohonan itu disebut pohon Kalpataru yang mempunyai makna pohon hidup.
  • Lukisan hewani yang terdapat di dalam gunungan itu menggambarkan hewan-hewan yang terdapat di pulau Jawa.
  • Peri kehidupan manusia yang dahulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon, sementara yang sekarang hanya digambarkan dalam janturan, prolog, atau dalam jejeran pertama.

 

 

Dalam keyakinan Hindu Bali sendiri, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh Ki Dalang menggambarkan suatu proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu sehingga terwujudlah alam beserta isinya. Dalam istilahnya benda-benda tersebut disebut Panca Maha Bhuta¸ yaitu lima zat yang diciptakan oleh Tuhan, yakni Banu (sinar-udara-sethan), Bani (Brahma-Api), Banyu (air), Bayu (angin), dan Bantala (bumi-tanah). Agama Budha sendiri memberi pandangan bahwa kayon dapat diartikan sebagai pohon hidup atau pohon budhi tempat Sidharta Gautama mendapatkan wahyu (ilhamnya) untuk menjadi pelopor dalam pengembangan ilhamnya, sehingga akhirnya tersebarlah agama Budha di dunia.

 

 

Arti Gambar dalam Gunungan

Berikut ini adalah arti dari setiap detail gambar di dalam gunungan:

  • Gapura dan dua penjaga adalah lambang hati manusia ada dua hal yaitu baik dan buruk. Tameng dan godho yang mereka pegang dapat di intrepertasikan sebagai penjaga alam gelap dan terang.
  • Hutan (pohon) dan binatang adalah lambang dari berbagai sifat dan tabiat manusia.
  • Pohon yang tumbuh menjalar keseluruh badan dan ke puncak Gunungan Wayang Kulit melambangkan segala budi-daya dan perilaku manusia harus tumbuh dan bergerak maju (dinamis) sehingga bisa bermanfaat serta mewarnai dunia dan alam semesta (Urip iku obah, Obaho sing ngarah-arah). Pohon itu juga melambangkan bahwa Tuhan telah memberi pengayoman dan perlindungan bagi manusia yang hidup di dunia ini.
  • Burung melambangkan manusia harus membuat dunia dan alam semesta menjadi indah dalam spiritual maupun material.
  • Banteng melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet dan tanguh.
  • Kera melambangkan mausia harus mampu memilih dan memilah antara baik-buruk, manis-pahit seperti halnya kera pintar memilih buah yang baik, matang dan manis, sehingga diharapkan kita bertindak yang baik dan tepat ( bener tur pener).
  • Harimau melambangkan manusia harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri (punya jati diri) sehingga harus mampu bertindak bijaksana dan mampu mengendalikan nafsu serta hati nurani untuk menuju yang lebih baik dan maju, sehingga bisa bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain dan alam semesta. Karena bila manusia tidak mampu menjadi Pemimpin bagi dirinya sendiri dan tidak mampu mengendalikan diri sendiri akan berakibat fatal dan semua akan hancur musnah seperti halnya Gunungan wayang bila dibalik akan menjadi berwarna merah menyala (terbakar).
  • Gambar kepala raksasa melambangkan manusia dalam kehidupan sehari-hari mempunyai sifat rakus, jahat seperti setan.
  • Gambar ilu-ilu Banaspati (jin atau setan) pada bagian belakang melambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan manusia.
  • Gambar samudra melambangkan pikiran manusia.
  • Gambar rumah joglo (gapuran) melambangkan suatu rumah atau negara yang didalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram, dan bahagia.

 

 

Sumber konten: SuaraMerdeka.com & AgungJakaNugraha.com

Sumber konten: SuaraMerdeka.com


 

Perjalanan Anak Pelosok Menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional

Perjalanan Anak Pelosok Menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional

Jika seorang bayi yang akan lahir di dunia boleh memilih, hidup apa yang disukai dan ingin dijalani mungkin semuanya akan memilih hidup yang ideal, di mana kebahagian dan kemudahan akan selalu ada di sana. But the world is not as perfect as anyone wishes so, setiap […]

Materialisme: Opo Kowe Siap Mlarat?

Materialisme: Opo Kowe Siap Mlarat?

“Banyak orang yang bilang: anak-anak zaman sekarang makin matre. Dimana-mana matre tidak di daerah tidak di perkotaan semuanya sama.” Ya, umpatan atau keluhan semacam itu sering sekali saya dengarkan. Apakah benar? Apakah salah? Jawabannya adalah keduanya. Bahwa sifat matre itu sejatinya, menurut saya, adalah bawaan […]

Kereta Api Itu Mengantar Kami Sampai Rumah

Kereta Api Itu Mengantar Kami Sampai Rumah

Obrolan via aplikasi online akhirnya mengantarkan kami, saya dan teman baik saya sejak dulu SMP, pada percakapan berikut ini:

Sampeyan tau numpak Gaya Baru Malam Selatan ta?”
(Kamu pernah naik Gaya Baru Malam Selatan kah?)

Yo mesthi tau lah!”
(Ya pasti pernah lah)

 

Ya, obrolan kami adalah seputar pengalaman menarik dan tak terlupakan ketika di awal-awal tahun kami merantau ke ibukota, Jakarta. Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) adalah kereta yang sekiranya sangat legendaris bagi siapa saja, terutama mereka yang uang transportasinya cekak untuk bepergian dari wilayah Jawa yang satu ke lainnya. GBMS adalah kereta angkut orang kelas ekonomi, yang saat ini sudah tidak ada lagi karena diganti dengan kereta ekonomi AC. Dulu GBMS disebut ekonomi karena memang harga tiketnya yang murah. Kereta jurusan Jakarta-Surabaya lewat jalur selatan Jawa ini dibanderol dengan harga 37.500 rupiah untuk satu tiketnya. Apakah murah? Ya relatif lebih murah dibandingkan dengan tiket kereta bisnis, tiket bus apalagi pesawat terbang.

Disebut ekonomi salah satunya ya karena fasilitas di dalamnya yang serba terbatas. Tempat duduk berhadapan satu sama lain dengan jarak kaki yang sangat sempit. Tempat duduknya terbuat dari karet dengan busa yang sangat tipis dan sandaran punggungnya tepat tegak lurus. Sirkulasi udara menggunakan AC alias angin cuma-cuma. Ada toilet tapi keadannya ya seperti itu, bahkan paling sering tidak ada arinya sama sekali. Satu hal lagi kereta ini ibarat seperti pasar karena pedagang bebas naik turun hilir mudik.

GBMS adalah langganan saya dan teman saya tersebut ketika pulang kampung saat kami menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Kenapa? Ya karena kita tidak punya uang untuk bisa membeli tiket moda transportasi lainnya yang lebih nyaman dan memadai. Hari-hari selama empat tahun saya bolak-balik Jakarta-Jombang saya lalui dengan naik GBMS ini.

Sekelumit cerita bagaimana saya mengenal GBMS ini. Siang itu hampir jam 12 dan kereta GBMS sudah siap untuk berangkat dari Stasiun Jakarta Kota. Bangku-bangku masih terlihat banyak yang kosong. Apakah kereta benar-benar kosong? Jawabannya adalah tidak. Penumpang akan mulai memenuhi kursi ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya seperti Jatinegara dan Bekasi. Kereta yang masih sepi juga karena pedagang belum banyak mengokupansi ruang-ruang jalan sela antara kursi di dalam gerbong. Memasuki wilayah Jawa Barat, yakni Bekasi, mulailah kami disajikan dengan pasar berjalan. La kok disebut pasar berjalan? Karena semua yang kita butuhkan bisa ditemukan di sana. Mulai dari makanan, minuman, penjepit rambut, racun tikus, pisau, ikat pinggang, baju, senter, baterai jam dan lain-lainnya. Pokoknya kebutuhan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Para pedagang tersebut selalu menawarkan dagangannya ke setiap penumpang. Tidak hanya lewat kata, kadang mereka juga memberikan barang dagangan ke penumpang untuk dilihat-lihat. Biasanya satu baris bangku, yang terdiri dari 3 penumpang, akan diberi 1 sampel barang. Deru suara tawaran dagangan mereka kemudian semakin riuh dengan kehadiran pengamen dengan berbagai lagu mulai dari lagu dangdut, lagu melayu, lagu pop, lagu daerah dan makin banyak lagi. Keramaian ini ditambah dengan beberapa orang yang mengemis dengan berbagai cara. Penuh, pokoknya kereta penuh.

Kereta terus melaju menyusuri utara Jawa, di situ mulai terasa udara yagn lebih segar dibandingkan dengan di Jakarta. Sepanjang jalan juga bisa dilihat pemandangan sawah di kanan kiri. Oh alangkah indahnya negeri, begitu pikir saya. GBMS ini spesial, karena walau kursi sudah habis, tiket masih dijual oleh pihak kereta api. Saya dan teman saya lainnya yang tidak memiliki pilihan lain, ya mau tidak mau beli tiket tanpa kursi. Daripada tidak bisa pulang kampung ehehe. Lantas apa yang kami lakukan ketika tidak dapat kursi? Ya berdiri. Berdiri dimana? Dimana saja yang ada tempat untuk bisa berdiri. Sering beberapa kali saya berdiri di antara sambungan gerbong namun sayangnya seringkali pula sambungan gerbong ini penuh dengan barang. Namun sayangnya kami tidak sekuat apa yang kami harapkan. Jarak ratusan kilometer tidak cukup membuat kami kuat untuk seterusnya berdiri, akhirnya mau tidak mau kami duduk. Duduk dimana? Ya dimana saja asal bisa duduk. Yang paling sering adalah di jalan antara bangku duduk yang satu dengan yang lain. Apakah boleh? Ya boleh-boleh saja. Di dalam gerbong kamu bisa melakukan apapun: merokok, kipas-kipas, makan, buang sampah dan lainnya. Bebas sekali begitu pikir saya ehehe. Duduk di jalan bukan tanpa rintangan. Kereta penuh dengan orang, lalu lalang ke sana kemari, ya pasti kami disepak kanan kiri oke, tertendang baik sengaja maupun tidak sengaja. Tendangan kadang mengenai tangan, lengan, tubuh atau bahkan kepala saya ehehe. Tendangan antar provinsi mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta sampai Jawa Timur wkwkwkwk.

 

Masuk Jawa Tengah & Jogja
Lepas dari Cirebon, sore jelang maghrib, kereta mulai memasuki wilayah Jawa Tengah. Di sana saat memasuki wilayah Banyumas, mulailah sekelompok pengamen transjender masuk kereta api. Mereka dengan menggunakan kincringan seadanya mulai menyanyikan lagu. Lagunya pun unik kadang lagu dangdut atau mungkin lagu ciptaan mereka sendiri. Dengan dandanan yang lumayan menor, mereka menarik perhatian para penumpang. Tidak segan mereka juga menggoda para penumpang. Sebagian saya liat cukup terhibur karena memang mereka ini lucu-lucu. Tak jarang di antara nyanyian mereka, mereka selipi dengan kata ‘ewer-ewer’ dan itu berulang-ulang. Mereka terlihat sangat menikmati pekerjaannya itu. Sebagian penumpang lainnya terlihat takut bahkan tidak sedikit pula yang mencibir. Ya, life is hard but it gets even harder for LGBT people like them. Banyak orang menganggap itu sebagai masalah bahkan musuh. Jikapun masalah tentunya harusnya bersama mencari solusi bukan malah memusuhi.

Selepas itu kemudian muncullah rombongan ibu-ibu, mbak-mbak dan mbah-mbah penjual pecel. Mereka menyunggi (membawa sesuatu di atas kepala) dagangan mereka yang terdiri dari aneka sayuran dan gorengan dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Saya tentu heran bagaimana mereka menjaga keseimbangan di kereta yang lajunya kadang cepat kadang lambat, dan juga kadang mengerem mendadak itu. Tentu tidak mudah, tapi saya yakin mereka telah berjualan lama belasan atau bahkan puluhan tahun di kereta tersebut. Dagangan mereka adalah pecel ala Jawa Tengahan dimana aneka sayuran dipotong kemudian dijadikan satu dan ditaburi dengan bumbu pecel. Kadang ditambahkan gorengan seperti tahu dan bakwan, atau orang Jawa Timur menyebutnya othe-othe. Terlihat beberapa dari mereka yang sudah tua wajahnya kuyu dan lelah. Namun mau bagaimana lagi, begitulah hidup. Kerja atau tidak makan sama sekali. Again, life is hard

Mereka berdagang mengikuti laju kereta yang melewati Kebumen dan Purworejo. Memasuki wilayah Yogyakarta yakni Kulon Progo, mereka sudah tidak terlihat lagi. Saya yakin entah ganti kereta atau bergegas pulang jika rumah mereka di sekitar Purworejo.

Memasuki wilayah Jogja memang memberikan atmosfer tersendiri. Dari Kulon Progo ke Kota Yogyakarta memang tidak begitu jauh. Kereta kami pun berjalan mulai memelan ketika memasuki area kota. Entah saya tidak menghitung inis stasiun ke berapa yang mana kereta ini berhenti karena di setiap stasiun memang kereta ini berhenti. Stasiun berikutnya adalah Lempuyangan bukan Stasiun Tugu. Tugu hanyalah tempat parkir untuk kereta bisnis dan eksekutif. Di salah satu sisi rel, terdapat keriuhan jelang tengah malam ada lampu lampu warna warni pula. Ya itu adalah kawasan Sarkem atau Pasar Kembang. Pusat prostitusi di Kota Yogyakarta. Keberadaan Sarkem sudah cukup lama dan terkenal sampai kemana-mana. Pusat prostitusi memang banyak ditemukan di sekitaran rel kereta api di kota-kota besar seperti Jakarta, Jogja dan Surabaya. Pernah saya baca artikel bahwa keberadaan mereka jamak di sana karena dulu prostitusi memang menyasar kepada para pekerja yang membangun jalur rel kereta api tersebut sehingga memang lokasi praktek mereka dekat dengan rel kereta api. Well, kita tidak akan pernah tau apa motif seseorang terjun ke dunia prostitusi. Bisa saja memang murni karena uang, bisa saja karena untuk membiaya keluarga dan ada tanggungan lainnya. Yang jelas kita sejatinya tidak boleh menghakimi begitu saja tanpa tahu duduk masalah dan persoalannya.

 

Selamat Datang Rumah
Jogja, hanya sebentar disinggahi sampai kereta lanjut ke Klaten, Sragen, Solo kemudian tembus Ngawi Jawa Timur. Jam sudah menunjukkan lewat dini hari dan orang-orang sudah mulai tertidur kecuali pedagang kopi atau teh yang tetap mondar-mandir ke sana ke mari. Memasuki wilayah Madiun, mulai berseliweran pedagang brem. Brem adalah makanan kecil terbuat dari semacam tape yang disarikan dan dibentuk batangan. Brem memang khas madiun. Setelah itu kereta langsung bablas ke Nganjuk, Kertosono dan akhirnya sampai Jombang. Perjalanan sepanjang 15 jam paling cepat itu akhirnya selesai juga. Lama sekali karena memang laju kereta yang lambat serta sering ngetem ehehe. Ngetem di setiap stasiun serta di manapun untuk mengalah dan memberi jalan kereta bisnis atau eksekutif jika mereka berpapasan.

Jarak rumah saya di desa dengan stasiun kereta di pusat kota memang lumayan jauh bisa hampir satu jam. Angkutan yang tersedia juga terbatas ketika waktu masih menunjukkan jam 3-4 pagi. Saya memang seringkali menggunakan becak untuk pulang karena hanya itu yang tersedia.

GBMS adalah potret kehidupan bagaimana masyarakat, yang saya yakin, adalah masyarakat menengah ke bawah rindu akan kampung halamannya. Bagaimana masyarakat bertahan hidup dengan berdagang, mengamen, mengemis atau mungkin ada juga yang mencuri di atas kereta. Saya sendiri tentu sangat berkesan dengan GBMS. Pengalaman duduk di lantai dan ditendang kaki se Pulau Jawa serta sulitnya untuk sholat di dalam kereta menjadi kenangan yang tidak ternilai harganya. Saya senang bisa dan pernah naik kereta itu. Mengobrol dengan banyak sekali orang dengan cerita yang beragam. Namun sayang, kereta tersebut sekarang tidak ada lagi karena diganti dengan kereta ekonomi AC. Yang mana tidak boleh ada pedagang atau pengamen naik ke dalam gerbong kereta. Tidak pula mereka boleh berjualan di stasiun kereta. Entah kemana para pengamen itu, penjual kopi dan the, nenek-nenek penjual pecel, para pengamen transjender dan lainnya yang dulu hidup dari kereta GBMS tersebut. Dimanapun mereka, I wish good life for them!

Cerita dan obrolan kami renyah siang itu tentang GBMS ini. Sungguh cerita sedih namun juga lucu yang suatu saat nanti berharga kami ceritakan kepada orang lain. Kami miskin bukan karena pilihan, namun karena jalan hidup yang sudah digariskan oleh Tuhan. Sekarang kalau ingin pulang ke kampung halaman, Alhamdulillah ada rezeki lebih untuk bisa naik pesawat terbang. Sesuatu yang di masa kecil bahkan tidak terlintas di mimpi kami.

Piye, wes ra usah ngersulo ae. Kon kan wes tau ngrasakno urep mluarat to?!”
(Sudah tidak usah mengeluh terus. Kamu kan sudah pernah merasakan hidup miskin melarat kan?!)

Gusti Pangeran iku wes uapik karo awak e dhewe, ngekek i pengalaman seng wong akeh liane durung mesthi iso ngalami lan nglakoni ehehe

(Allah SWT itu sudah baik kepada kita, memberikan pengalaman yang banyak orang lainnya belum tentu bisa mengalami dan menjalani)

Nama-Nama Legendaris Jawa yang Terancam Punah

Nama-Nama Legendaris Jawa yang Terancam Punah

Orang Jawa memiliki nama-nama yang unik dan khas. Yang mungkin tiap nama mengandung pengertian atau makna tertentu. Yang saya sendiri tidak terlalu mengerti. Jika kamu ke daerah-daerah tertentu, maka kamu akan menemukan terutama di daerah pelosok nama-nama yang menurut saya legendaris, yang antara lain:   […]