Collaboration . Empowerment . Contribution

Trapped Between Faith and Destiny, Will You Escape and Bring Those Two into The Top?

Trapped Between Faith and Destiny, Will You Escape and Bring Those Two into The Top?

Aktivitas saya mungkin tidak cukup terganggu dengan waitress yang jalan mondar-mandir di samping saya. Ya, saya cukup bisa mentoleransi segala keadaan untuk bisa menjadi produktif dalam menulis. Suasana tenang memang sangat menyenangkan, namun suasana bising dan ramai juga kadang perlu dirasakan agar ada inspirasi lain yang muncul. Well, saya sangat tahu bahwa bekerja sebagai pelayan restroan bukanlah pekerjaan yang ringan. Dituntut fisik yang ekstra dan kesabaran luar biasa. Fisik karena mereka memang bekerja dengan fisik karena harus terus lalu lalang untuk menyajikan pesanan konsumen. Kesabaran karena mereka dituntut untuk tidak ikut terlena dalam perang urat, bahkan ketika berhadapan konsumen paling brengsek seduniapun. Bagi mereka, pelayanan dan kenyamanan konsumen adalah kunci utama agar bisa bertahan dan tidak diberhentikan kerja. Lantas, pengorbanan perasaan pun tentu tidak akan bisa dihindari.

Pelayan-pelayan muda yang umurnya sekitaran menjelang 20an atau 20an awal ini dari logatnya juga bukan dari Jakarta. Saya yakin mereka berasal dari Jawa Tengah somewhere. Bertahan di ibukota dengan keterampilan yang terbatas tentu bukan menjadi hal yang mudah. Apalagi untuk gadis-gadis lugu asal daerah ini. Apa yang saya lihat ini akhirnya membuat saya teringat atas obrolan teman saya antara takdir dan nasib,ya antara faith and destiny. Faith atau takdir adalah apa yang sudah digariskan oleh Tuhan dan kadang kita dapat semenjak lahir. Bagi gadis-gadis yang saya lihat mondar-mandir di hadapan saya ini, mereka tidak bisa memilih dan mengindahkan takdir bahwa mereka dilahirkan di daerah atau mungkin perdesaan. Mereka juga tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa mereka dilahirkan, latar belakang sosial dan juga fisik ketika dilahirkan. Bagi manusia, faith tidak bisa dirubah karena Tuhan telah menggariskannya bahkan sejak jauh-jauh hari. Berbeda dengan nasib atau destiny, manusia bisa menentukan sendiri nasibnya tentang apa yang ingin dia raih dan ingin menjadi apa selama hidup di dunia. Destiny ada di tangan manusia dan akan tergantung dari besarnya niat dan kerja keras dari orang tersebut. Destiny juga membutuhkan ketabahan atau durability karena dalam mencapai destiny, manusia tidak selalu dihadapkan dengan jalan yang lurus; kadang belok, penuh tikungan tajam, bergelombang, naik turun dan sebagainya.

 

Jika diumpamakan, maka faith ibarat jantung. Manusia tidak bisa mengendalikan kapan jantung itu berdetak dan kapan tidak. Jantung bisa berhenti berdetak kapan saja semaunya. Sedang destiny ibarat seperti paru-paru. Manusia bisa mengatur kapan bernafas dengan lambat dan kapan akan bernapas dengan cepat. Kadang manusia akan terpuruh dan terlalu meratapi faith yang dia miliki. Padahal faith seperti saya sebutkan sebelumnya tidak akan berubah atau diubah. Alih-alih meratapi faith, yang seharusnya disyukuri, maka manusia seharusnya bekerja keras pertama untuk menentukan apa yang menjadi life destiny-nya. Kedua adalah untuk mewujudkan life destiny tersebut. Ah, ini pula yang saya belajar untuk bisa menerima faith dan memaksimalkan potensi saya untuk mewujudkan destiny saya. Kadang dalam hidup memang dibutuhkan waktu untu bisa tahu dan memutuskan apa yang menjadi tujuan hidup, sangat wajar dan sangat manusiawi. Kembali ke para pelayan wanita yang saya lihat, mungkin sebagian dari mereka akan menemukan ilham atau titik balik dalam hidup dan menyadari bahwa apa yang mereka kerjakan atau lakukan selama ini bukan seperti yang mereka harapkan atau impikan. Sebagian akan bertahan di pekerjaan saat ini, sebagian akan pindah kerja ke tempat yang lebih baik atau sebagian lagi akan kembali ke kampung halamannya dan memilih untuk hidup sederhana dan bersahaja di sana.

 

But at the end of the day, dengan melakukan dua hal ini, manusia akan pasti tahu apa hidup yang diinginkan. Lebih jauh lagi, keluhan, kegusaran dan kegalauan hidup akan bisa ditiadakan. Ya, menentukan apalagi mewujudkan destiny tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin 🙂



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *