Collaboration . Empowerment . Contribution

Memori Masa Kecil dan Harapan Pemain Tenis Level Gang Kampung

Memori Masa Kecil dan Harapan Pemain Tenis Level Gang Kampung

Saya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat tiga anak kecil yang umurnya sekitar 4-5 tahun asyik bermain tenis dengan raket mini mereka masing-masing. Ya, insting saya untuk menulis post dengan tema tenis pun langsung muncul dalam pikiran. Kembali ke anak-anak tadi, namanya juga anak-anak, mereka memukul bola sekenanya saja yang walhasil bolanya juga mengarah ke segala penjuru arah, tidak beraturan sama sekali. Lucu sekali melihat tingkah polah tiga anak kecil tersebut. Saya jadi ingat bahwa dulu saya juga mulai bermain tenis sejak kecil. Namun tidak dari umur sekitar 5 tahunan.

Entah, apa yang membuat saya akhirnya tertarik pada tenis dan akhirnya belajar bermain tenis. Dulu dari kecil sekali entah umur berapa saya sudah akrab dengan olahraga bulutangkis. Hampir setiap hari saya bermain karena di lingkungan saya tinggal juga banyak anak-anak yang suka bermain bulutangkis. Ah, namun tenis ternyata “membutakan” mata saya dan akhirnya merenggut semua ketertarikan olahraga saya hanya untuk olahraga tepok bola ini. Mulanya, seorang teman Ibu yang kaya raya, memberikan saya raket bekas kepunyaan dia. Hm, buat kami apalagi yang tinggal di daerah, tenis merupakan olahraga mahal dan mungkin hanya untuk kalangan kelas A saja. Kalau dihitung entahlah berapa rupiah itu harga raket tenis, bola tenis, sepatu tenis dan perlengkapan lainnya. Pemberian raket bekas tersebut akhirnya membuat saya mulai mengayun raket. Kebetulan di antara rumah keluarga kami dan rumah nenek ada gang lumayan panjang. Kalau tidak salah ukurannya 2 x 5 meter.

Di situlah saya akhirnya belajar dengan memukul bola tenis ke arah tembok di ujung gang pemisah dua rumah tersebut. Hal tersebut berlangsung lumayan lama. Hal yang konyol terjadi adalah tepat di samping gang tersebut ada pintu keluar masuk yang terbuat dari seng. Walhasil, jika bolanya ternyata mengarah ke pintu tersebut, maka bisa dibayangkan betapa keras bunyinya “duaaaar”. Tidak hanya keluarga saya yang komplain namun juga para tetangga. Hm, saya sendiri berusaha sekeras mungkin agar bola tidak menghantam pintu seng. Namanya juga bola bundar, maka bisa ditebak bahwa frekuensi mengarahnya bola ke pintu seng masih juga sering terjadi. Ahaha benar-benar konyol.

Hal konyol lain adalah ketika bola-bola tenis melambung tinggi sampai melewati batas atas tembok gang, wah saya harus cepat-cepat berlari mengejarnya karena tepat di rumah nenek saya ada jalan raya. Saya agak ngeri jika bola tersebut mengenai pengendara atau pengguna jalan yang mana paling riskan adalah terjadinya kecelakaan. Selain itu, karena di depan rumah ada sungai, bola yang masuk ke sungai akan hanyut ikut bersama arus sungai yang deras. Jika itu terjadi, maka saya harus nabung kembali untuk membeli bola tenis yang waktu itu harganya sekitar 5,000 rupiah per buahnya. Untuk menyiasati hal itu, saya lebih suka membeli bola bekas yang harganya lebih murah, kalau tidak salah harganya sekitar 3,000 rupiah per buahnya.

 

“Here we go with some tennis kids :)”

 

Kegiatan tersebut berlangung lambat laun sampai akhirnya saya punya uang tabungan untuk membeli raket lagi. Namun, sebelum itu ada hal yang mengecewakan terjadi karena teman Ibu akhirnya meminta kembali raket yang dulunya diberikan kepada saya. Jujur, saya sangat sedih. Bisa-bisanya mereka meminta lagi raket yang sudah diberikan ke anak kecil yang mulai mencintai tenis dan bertekad belajar tenis dengan baik. Namun Tuhan memang baik, saya akhirnya punya tabungan untuk bisa membeli raket sendiri, tidak hanya satu namun dua raket sekaligus. Melihat itu, kakak saya yang awalnya tidak peduli dengan tenis akhirnya ikut tertarik dan akhirnya mulai belajar tenis pula. Akhirnya kami menjadi hitting partner dan biasa bermain di lapangan tenis sebuah sekolah di dekat rumah kami. Ya, begitulah awal saya mengenal dan belajar tenis dan hal ini tentu begitu terkesan.

Namanya, juga belajar ala kadarnya. Waktu kecil saya tidak punya pelatih atau sparring partner yang jago bermain tenis. Sehingga gaya memukul bola saya juga ala kadarnya bahkan sampe sekarang. Teman saya bermain tenis saat ini bahkan sering komplain terkait hal itu mulai dari pukulan yang aneh, arah yang tidak beraturan, tempo bermain yang terlalu dinamis dan hal-hal lain yang membuat mereka tidak terima dikalahkan oleh pemain tenis level gang rumah seperti saya.

Hm, sebagai pecinta tenis tentu saya mengikuti bagaimana perkembangan tenis dunia. Ya, saya selama ini aktif melihat pertandingan tenis wanita yang ada di bawah naungan Women Tennis Association (WTA). Beruntung, saya pernah melihat langsung pertandingan tenis kelas dunia Commonwealth Bank Tournament of Champions di Bali, tahun 2010 yang lalu. Waktu itu 8 petenis top dunia ada di sana termasuk Anna Ivanovic, Li Na, Daniela Hantuchova dan lainnya. Hm, jujur saya punya beberapa pemain favorit, setidaknya ada 4 yakni Martina Hingis, Serena Williams, Kimiko Date Krumm dan Maria Sharapova. Marina Hingis, pemain asal Swiss ini merupakan juara termuda Wimbledon dan berhasil menjadi ratu tenis di usia yang sangat belia yakni 16 tahun. Rekor yang tentu akan sangat sulit dipecahkan oleh petenis lain. Lain halnya dengan Serena Williams, Serena merupakan petenis paling top saat ini dan termasuk inspiratif karena berhasil bermain kembali di level atas setelah beberapa tahun lalu harus off karena cedera parah. Kimiko, petenis Jepang yang pernah tembus top 4 peringkat tenis wanita dunia juga tidak kalah inspiratif. Di masa comeback tahun 2007 tahun lalu, yang bersangkutan bisa menjuarai turnamen Hansol Korea Open di usia yang hampir 40-an. Kini yang bersangkutan masih konsisten di peringkat 100 besar dunia dan merupakan petenis terbaik Jepang saat ini. Tidak ada yang bisa menyangka bahwa Kimiko akan bisa konsisten di peringkat itu ketika usianya sudah meninggalkan kepala 3. Well, untuk Sharapova sepertinya semua orang tahu siapa dia. Sharapova merupakan one of the most beautiful tennis players ever alive dan memang digandrungi karena selain secara fisik, Sharapova sangat menarik juga karena prestasinya yang tidak biasa-biasa saja. Sharapova merupakan juara empat grand slams berbeda dan meraih Sharapova Slams-nya ketika menjuarai French Open tahun 2012 lalu. Dia juga menjadi petenis dengan bayaran atau pendapatan termahal dengan berbagai sponsorship yang dimilikinya. Tidak hanya itu, Sharapova juga mengembangkan sayap bisnisnya dengan membangun candy brandmerek “Sugarpova”. Tidak banyak petenis yang melirik dunia bisnis ketika sedang berada di puncak popularitasnya.

Ya ya, saya terlalu banyak cerita tentang pemain favorit saya. Entahlah, kenapa saya lebih tertarik untuk mengikuti tenis wanita daripada tenis pria. Mungkin melihat para petenis wanita lebih menyegarkan ya, baju mereka juga keren-keren. Saya suka saja sepertinya melihat powerful girls yang bekerja keras mewujudkan mimpinya di lapangan tenis. Sama seperti salah satu campaign yang digaungkan WTA yakni “Strong is Beautiful”.  Hm, saya sendiri bersyukur karena selama bermain tenis setidaknya pernah berprestasi ahaha. Beberapa tahun lalu pernah dapat gold medalist dan bronze medalist di ajang Accenture-Jakarta office sport Olympics dan hal ini tentu membanggakan ehehe. Akhirnya pemain tenis level gang bisa dapat medali juga….

 

 

So apa imajinasi liar saya tentang tenis?

Lantas jika ditanya, apa imajinasi terliar saya di tenis maka jawabannya adalah saya berharap someday kalau sudah punya anak, salah satu dari anak saya akan bisa menjadi pemain tenis profesional. Namun pertama pasti saya harus menemukan pacar atau calon istri yang juga gemar bermain tenis. Seru sepertinya pacaran sambil bermain tenis ahaha 🙂

Hm, menarik dan bahagia sekali jika nantinya anak kami bisa menjadi juara turnamen internasional apalagi sekelas grand slam. For the social purpose, saya ingin membangun suatu foundation yang bertujuan untuk mensosialisasikan olahraga tenis ke seluruh penjuru negeri dan menghapuskan stigma bahwa tenis hanyalah untuk orang kaya saja. Ya, semua orang berhak dan bisa bermain tenis terlepas dari golongan masyarakat apa dia berasal. Saya juga ingin membuat sekolah tenis yang beberapa saat lalu bahkan sempat akan terwujud dengan nama “Smash Tennis School”. Namun sayang, karena partner kerja saya di project tersebut dan saya sendiri sibuk dengan urusan masing-masing, akhirnya sampai sekarang belum Hmmmm, ya beginilah imajinasi pemain tenis level gang. Apakah kamu, pecinta tenis, juga punya imajinasi liar yang serupa? Atau lebih liar dari imajinasi saya?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *